Categories: FEATURES

Roh Kudus Persatukan Semua Suku Bangsa, Jadi Kekuatan Bagi yang Menghayati Iman

Dari Perayaan Pentakosta yang Digelar Dalam Misa Bernuansa Etnik

Seluruh umat Kristiani di seluruh dunia termasuk di Kota Jayapura, Minggu (8/6) kemarin merayakan Pentakosta atau turunnya Roh Kudus. Perayaan turunnya Roh Kudus kepada para rasul dan murid-murid Yesus di Yerusalem, terjadi 50 hari setelah Paskah. Secara khusus Gereja Katolik merayakan Pentakosta ini dengan nuansa budaya.

Laporan: Jimianus Karlodi-Jayapura

Pentakosta yang disebut sebagai hari lahir gereja karena peristiwa ini menandai momen ketika Roh Kudus turun ke atas para rasul dan murid-murid Yesus, memberikan mereka kuasa dan kemampuan untuk mewartakan Injil kepada seluruh dunia.

   Pada Hari Pentakosta, para rasul diberikan karunia oleh Roh Kudus untuk berbicara dalam berbagai bahasa. Ini adalah bukti nyata kehadiran Roh Kudus dan kemampuan-Nya untuk mengkomunikasikan kabar baik kepada semua orang, melintasi batasan bahasa.

   Oleh karena itu, di lingkungan Gereja Katolik, perayaan Pentakosta ini sering digelar dengan nuansa etnik. Dimana budaya dan bahasa dari umat yang berlatar belakang suku yang ada di Indonesia ini, ditampilkan dalam misa Perayaan Pentakosta. Hal ini seperti yang terlihat di  Gereja Katolik Paroki Gereja Gembala Baik Abepura maupun di Paroki Kristus Juru Selamat Kotaraja, Minggu (8/6).   

   Di Gereja Gembala Baik Abepura, perayaan Pentakosta yang dipimpin Pastor Paroki Barnabas Daryana, Pr., diawali dengan arak-arakan tarian dari masyarakat Flobamora, Nusa Tenggara Timur, tarian persembahan dari masayarakat Toraja. Sementara paduan suara dipandu dari Masyarakat Mee Pago, Lapago.

   Dalam perayaan misa ini juga ditampilkan lagu-lagu liturgi dari bahasa daerah masing-masing. Menariknya, meski hanya sekedar mengetahui bahasa dari suku daerah tertentu, namun pada umumnya umat Katolik ini bisa memahami lagu-lagu yang dinyanyikan dengan berbagai bahasa daerah ini.

   Sementara itu, perayaan Pentakosta dengan nuansa budaya ini juga digelar di Paroki Kristus Juru Selamat di Kotaraja.  Pastur Felix Amias, MSC dalam homilinya mengungkapkan bahwa gereja memiliki keanekaragaman suku dan budaya yang satu di dalam Tuhan. Artinya hidup beragama tidak harus memandang adanya perbedaan antara suku satu dengan suku yang lainnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Motif Pembunuhan  Anak Kandung Diduga Persoalan Internal Keluarga

Penyidik Polres Merauke menetapkan MR (31), ayah kandung korban, sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap…

2 days ago

Ada 4 Laporan Dugaan Pelanggaran Kode Etik Hakim

​Ketua Koordinator Penghubung Komisi Yudisial RI Wilayah Papua, Dr. Methodius Kossay, S.H., M.Hum., CT., CMP,…

2 days ago

Angka Kemiskinan Naik 12,03 Persen, Bapperida Dorong Penguatan Data

- Angka kemiskinan di Kota Jayapura mengalami peningkatan menjadi 12,03 persen pada 2025. Kondisi tersebut…

2 days ago

Disorot DPRP, Gubernur Diminta Jelaskan Sisa Dana Cadangan

–DPR Papua meminta Pemerintah Provinsi Papua memastikan pengelolaan Dana Cadangan senilai Rp134,02 miliar dilakukan secara…

2 days ago

Salah Gunakan Izin Tinggal, Dua Warga Cina Dideportasi

Kantor Imigrasi Kelas I TPI Jayapura mengungkap dugaan penyalahgunaan izin tinggal yang dilakukan dua warga…

2 days ago

​Bukti Medis Diklaim Luka Tembak Peluru Karet

BEM menunjukkan dokumen rekam medis RSUD Abepura tanggal 15 Agustus 2026 dimana dalam dokumen pemeriksaan…

2 days ago