Salah satu perubahan yang paling terasa adalah mulai berkurangnya penggunaan bahasa ibu di kalangan generasi muda masyarakat adat. “Banyak anak-anak Port Numbay sekarang sudah tidak bisa berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri. Ini menunjukkan adanya degradasi budaya yang harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.


Menurut Alberth, jika kondisi tersebut terus dibiarkan maka kearifan lokal masyarakat adat berpotensi mengalami kepunahan. Selain persoalan budaya, ia juga menyoroti kondisi lingkungan di Kota Jayapura yang semakin mengalami tekanan akibat pembangunan yang tidak terencana dengan baik.
Ia mencontohkan pencemaran yang terjadi di sungai, teluk dan kawasan pesisir yang sebelumnya dikenal sangat bersih. “Kita melihat sekarang banyak sungai sudah tercemar, teluk juga tercemar, bahkan bibir pantai sudah dipenuhi sampah. Ini menjadi tanda bahwa lingkungan kota kita sedang mengalami tekanan yang serius,” ujarnya.
Alberth juga mengingatkan bahwa pembangunan yang tidak direncanakan dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai bencana alam di Kota Jayapura. Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, kota ini kerap mengalami kejadian seperti longsor, banjir hingga pohon tumbang ketika hujan deras atau angin kencang.
“Kita lihat ketika hujan deras terjadi longsor di beberapa titik, ada pohon tumbang, bahkan ada wilayah yang tergenang air. Ini harus menjadi peringatan bagi kita semua bahwa tata kelola pembangunan kota perlu diperbaiki,” katanya.
Ia menjelaskan kondisi geografis Kota Jayapura yang sebagian besar merupakan kawasan perbukitan dan lembah membuat pembangunan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
“Wilayah datar di Kota Jayapura hanya sekitar 30 persen. Sebagian besar wilayahnya adalah perbukitan, lembah, sungai dan kawasan pesisir. Karena itu pembangunan harus direncanakan dengan sangat baik,” jelasnya.
Karena itu, Alberth mendorong Pemerintah Kota Jayapura untuk segera menyusun master plan pembangunan kota yang jelas, baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Menurutnya, perencanaan pembangunan kota perlu dibuat secara komprehensif untuk jangka waktu panjang, misalnya 5 tahun, 25 tahun, 50 tahun bahkan hingga 100 tahun ke depan. “Pemerintah kota harus memiliki master plan pembangunan yang jelas. Dengan adanya master plan, siapapun pemimpinnya nanti harus mengikuti perencanaan tersebut,” ujarnya.
epala Suku Wouma Kurima Hamzah Lantipo menyatakan usai konflik pada 15 Mei lalu selanjutnya tak…
Juru Bicara TNPB-OPM, Sebby Sambom, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim pembuat film dokumenter tersebut. Menurutnya,…
Diketahui, sebanyak 17 unit sepeda motor milik warga yang ada di sekitar Pelabuhan Kondap, Kelapa…
Perjalanan menuju Distrik Douw tidak mudah. Dengan menggunakan pesawat perintis dari Sentani, rombongan harus menempuh…
Akibat insiden ini pengendara sepeda motor dinyatakan meninggal dunia. Kasi Humas Polres Mimika, Iptu Hempy…
– Panitia Idul Adha Masjid Agung Baitul Rahman Wamena menyalurkan 13 ekor daging kurban yang…