Categories: FEATURES

Tidak Lakukan Konvoi, Pilih Siapkan Tempat untuk Berfoto dan Nobar

Baginya, menghias kampung bukan sekadar kegiatan musiman. Tradisi itu sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum kampung tersebut dikenal publik. Setiap Piala Dunia datang, warga selalu mengecat ulang tembok, memasang atribut, dan menciptakan suasana layaknya festival sepak bola.

“Tahun 2022 kami ikut lomba Kampung Piala Dunia yang diselenggarakan Grup Emtek dan berhasil juara pertama mewakili Papua,” kenangnya.
Namun penghargaan bukan tujuan utama mereka. Yang lebih penting adalah kebersamaan yang lahir dari kecintaan terhadap sepak bola.

Di kampung itu, pendukung Brasil tinggal berdampingan dengan fans Jerman. Pendukung Belanda bercengkerama dengan penggemar Argentina. Tidak ada sekat, apalagi permusuhan.

“Di sini semua fans ada. Brasil, Belanda, Jerman, Portugal, Argentina, semuanya ada,” kata Odhy sembari mengunyah pinang sore itu.
Tradisi dukung-mendukung bahkan diwariskan dalam keluarga. Sebagian besar warga mengenal negara favoritnya sejak kecil, mengikuti pilihan orang tua mereka. Namun tidak semua anak mengikuti jejak yang sama.

Edyson Sombari, siswa kelas VI SD, misalnya. Dengan senyum malu-malu, ia mengaku menjadi pendukung Portugal. Pilihan yang berbeda dengan ibunya yang menjagokan Spanyol dan ayahnya yang mendukung Italia. “Saya pilih Portugal karena ada Ronaldo,” ujarnya singkat.

Meski berbeda pilihan dengan orang tuanya, Edyson mengaku suasana di rumah tetap harmonis. Bahkan mereka memasang dua bendera sekaligus sebagai bentuk dukungan kepada tim favorit masing-masing.

“Di rumah ada bendera Portugal dan Spanyol. Mama tidak marah walaupun saya beda pilihan,” kata anak 13 tahun ini sembari tersenyum.
Edyson berharap Portugal mampu tampil sebagai juara dunia tahun ini. “Harapan saya Portugal juara dan bisa menang kalau bertemu Spanyol atau Inggris,” tuturnya.

Tradisi menghias kampung setiap perhelatan Piala Dunia bukanlah hal baru bagi warga Doxem. Semangat itu telah berlangsung bertahun-tahun dan menjadi bagian dari budaya sepak bola masyarakat setempat.

“Setiap Piala Dunia kami selalu membuat mural dan menghias kampung seperti ini. Hanya saja dulu tidak banyak yang mengetahui. Tahun 2022 kami mengikuti lomba yang diselenggarakan Grup Emtek dan berhasil menjadi juara pertama mewakili Papua, mengalahkan peserta dari Depok dan Madura,” katanya.

Berbeda dengan kelompok suporter lainnya yang sering menggelar pawai kendaraan, warga Kampung Piala Dunia memilih menyiapkan ruang berkumpul bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana sepak bola bersama.

“Kami tidak membuat pawai. Kami menyiapkan tempat untuk masyarakat yang ingin datang berfoto atau menonton pertandingan bersama. Siapa saja boleh datang dan semuanya gratis,” ungkapnya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Jalur  Utara Papua Jadi Prioritas Konektivitas Daerah

Menurut dia, jika konektivitas darat dan laut berjalan bersamaan maka masyarakat akan memperoleh manfaat yang…

1 day ago

Transparansi dan Pelayanan Publik di BPN Dinilai Buruk

Wakil Ketua I DPR Kota Jayapura, Max Karubaba, menegaskan bahwa pelayanan pertanahan merupakan hak mendasar…

1 day ago

Tiga Kali Setubuhi Anak Dibawa Umur, Pria 44 Tahun Diringkus

Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Merauke mengamankan seorang pria berumur 44 tahun berinisial FB atas…

2 days ago

Sertifikasi Pramusaji, Perkuat Kompetensi SDM Pariwisata 

  Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, melalui Staf Ahli Wali Kota, Sem Stenly Merauje,…

2 days ago

Dipicu Masalah Asmara, Dua Kelompok Warga di Merauke Saling Serang

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga, SIK, dikonfirmasi menjelaskan, peristiwa bermula ketika seorang pria diduga melakukan…

2 days ago

Lautan Batu Apung Kepung Pantai Hamadi

Pemandangan elok pesisir Pantai Hamadi, Kota Jayapura, kini tertutup oleh fenomena material laut dan limbah…

2 days ago