“Kami bahkan tak bisa masuk lewat pintu, harus lewat atap,” kenangnya lirih. “Untung saja keluarga saya semua selamat. Tapi kalau diingat-ingat, rasanya seperti mimpi buruk yang tak mau berakhir.”
Kini, enam tahun sudah berlalu sejak air bah itu datang. BTN Bintang Timur mungkin tampak tenang dari luar, tapi bagi warganya, setiap rintik hujan masih menjadi pengingat bahwa luka alam tak sepenuhnya bisa sembuh. Mereka hidup berdampingan dengan kenangan, berusaha menata hari esok di atas tanah yang pernah menguji keteguhan mereka. (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Ketua KSPI Papua, Benyamin Eduard Inuri, mengatakan bahwa aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak…
Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan bantuan pemerintah. Sosialisasi…
Menurut Sandra beberapa poin krusial yang menjadi beban pikiran masyarakat Papua saat ini, di antaranya:…
Berbeda dengan aksi massa mahasiswa sebelumnya pada, Senin 27 April 2026 lalu, ruas Waena-Abepura sempat…
Ketua PMI Kota Jayapura, Rustan Saru, menegaskan fogging hanya efektif jika digunakan sesuai prosedur. Kesalahan…
Pemerintah Kota Jayapura mendorong pengelola ritel modern untuk memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,…