“Kami bahkan tak bisa masuk lewat pintu, harus lewat atap,” kenangnya lirih. “Untung saja keluarga saya semua selamat. Tapi kalau diingat-ingat, rasanya seperti mimpi buruk yang tak mau berakhir.”
Kini, enam tahun sudah berlalu sejak air bah itu datang. BTN Bintang Timur mungkin tampak tenang dari luar, tapi bagi warganya, setiap rintik hujan masih menjadi pengingat bahwa luka alam tak sepenuhnya bisa sembuh. Mereka hidup berdampingan dengan kenangan, berusaha menata hari esok di atas tanah yang pernah menguji keteguhan mereka. (*/wen)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
Setelah bencana longsor yang terjadi di Distrik Tagineri, Tanggime dan Bolakme (Banjir), kini giliran Distrik…
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke Romanus Kande Kahol mengatakan, salah satu alasan nikah…
Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Jayapura resmi membuka Rapat Paripurna Istimewa Masa Persidangan II Tahun…
Memasuki semester kedua tahun anggaran 2026, Bupati Mimika Johannes Rettob memberikan atensi khusus terhadap proses…
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo melalui Wakil Wali Kota, Rustan Saru, memaparkan berbagai capaian pembangunan…
Ia menyebutkan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan kasus TBC terbanyak di dunia. Sementara…