Categories: FEATURES

Ketemu Tupai Jinak, Kayu Bolong dan Guyuran Hujan

“Kita akan menempuh perjalanan sekitar empat jam dari pintu rimba ke Shelter 1. Sebelum bergerak, pastikan semuanya aman dan lengkap. Setelah doa bersama, kita langsung menuju Pos 1 Bangku Panjang,” kata Lihun. Seperti tradisi yang selalu kami jaga, pendakian diawali dengan doa bersama. Dipimpin langsung oleh Lihun, kami menundukkan kepala sejenak, memohon keselamatan dan kelancaran perjalanan. Jalur awal menuju Pos 1 yang dikenal sebagai Bangku Panjang relatif landai. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 2 km dari pintu rimba.

“Biasanya jalur ini jadi jalur pemanasan bagi para pendaki. Jangan langsung memaksakan diri. Berjalan santai saja agar otot tidak kaget,” ujar Bang Roy. Vegetasi hutan masih didominasi pepohonan besar. Tanah hitam yang padat dan lembap menjadi ciri khas hutan basah. Bekas hujan semalam menyisakan genangan kecil di beberapa titik, namun jalur masih aman dilalui. Bangku Panjang berada di ketinggian 1.889 mdpl. Nama ini merujuk pada bangunan tempat duduk panjang yang tersedia di lokasi tersebut. Selain itu, terdapat pondok permanen yang kerap dimanfaatkan pendaki untuk berteduh saat hujan.

“Tempatnya nyaman. Bisa jadi lokasi istirahat yang ideal,” kata Azib. Namun kami tidak berlama-lama. Selain jaraknya yang masih dekat dari pintu rimba, kondisi fisik tim juga masih prima. Setelah rehat singkat, perjalanan dilanjutkan. Perjalanan menuju Pos 2 Batu Lumut memakan waktu sekitar 30 menit. Jaraknya sekitar dua kilometer dari Bangku Panjang, dengan ketinggian mencapai 2.020 mdpl. Elevasi antara Bangku Panjang dan Batu Lumut tidak terlalu curam, dengan selisih ketinggian sekitar 131 mdpl.

Jalur mulai berubah. Tanjakan perlahan muncul, diselingi akar-akar pohon yang mencuat dari permukaan tanah. Meski belum terlalu curam, ritme langkah mulai diuji. “Tadi kita berangkat pukul 10.35 WIB, sekarang 11.05 WIB. Masih sesuai target,” ujar Lihun. Berbeda dengan Pos 1, Batu Lumut tidak memiliki bangunan permanen. Hanya terdapat batang kayu tumbang dan tumpukan batu berlumut sebagai penanda. Area datarnya pun terbatas sehingga biasanya pendaki tidak berlama-lama di pos ini.Dari Batu Lumut, perjalanan dilanjutkan menuju Pos 3 Panorama dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Jaraknya sekitar dua kilometer dengan ketinggian mencapai 2.225 mdpl.

Di Pondok Panorama terdapat pondok permanen. Namun yang paling menarik bukan bangunannya, melainkan penghuni kecil yang menyambut dengan ramah. Tupai-tupai liar tampak mendekat tanpa rasa takut. Bahkan, mereka naik ke tubuh pendaki untuk mengambil makanan. “Jinak sekali ya tupai. Mereka seperti sudah terbiasa dengan manusia,” ujar Azib. Menurut Lihun, kebiasaan pendaki memberi makan membuat satwa ini beradaptasi dan menjadi akrab dengan manusia.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

PNG Semakin Perberat Hukuman bagi Nelayan Indonesia

Rekianus mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Port Moresby…

1 day ago

Kasus Penipuan Loker di Mimika, Polisi Tetapkan Satu Tersangka

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Mimika menetapkan satu orang tersangka dalam kasus dugaan penipuan lowongan…

1 day ago

BNN Mimika: Tembakau Sintetis Marak di Kalangan Pelajar

Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Mimika mencatat tren penyalahgunaan narkotika kini marak menyasar kalangan pelajar…

1 day ago

Kemenkes Gandeng Pemprov Papeg, Buka Layanan Jantung Hingga Kanker

Kerja sama tersebut melibatkan Kementerian Kesehatan, 14 rumah sakit rujukan nasional, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan,…

1 day ago

Polisi Selidiki Kebakaran Rumah di Kelurahan Kelapa Lima

Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 00.30 WIT. Piket Satreskrim menerima laporan mengenai terbakarnya rumah milik…

1 day ago

Pemkab Tolikara Tinjau Program Penanaman Kakao di Distrik Wari dan Douw

​Program penanaman kakao dan kopi ini merupakan implementasi visi-misi strategis Bupati Tolikara. Program lintas sektor…

1 day ago