Categories: FEATURES

Tempuh 19 Jam, Laut Lepas Menjadi Ruang Tunggu Ratusan Penumpang

Membuka Tabir Perjalanan Laut Menggunakan Kapal Putih Jayapura – Waropen

Laporan: Ismail_Waropen

Deru mesin KM Dorolonda perlahan mulai berirama saat jarum jam menyentuh pukul 21.00 WIT lewat malam itu. Pelabuhan Jayapura melepas kami berlayar membelah kegelapan lautan Pasifik. Sebuah perjalanan panjang selama 19 jam membentang di depan mata, menuju satu titik di pesisir Papua: Kabupaten Waropen.

Di atas kapal megah milik PT Pelni ini, ada 2 ribu penumpang yang ikut berlayar. Cenderawasih Pos melebur bersama ratusan penumpang lainnya. Tidak ada sekat. Riuh rendah obrolan warga, tawa anak-anak, hingga aroma kopi, dan suara pedagang kapala riuh silih berganti menawarkan kopi, makanan hingga minuman. Yang menyengat menjadi teman setia di sepanjang dek.

Di sudut lain kapal, tampak hadir Bupati Waropen, Drs. Fransiskus Xaverius Mote, M.Si, bersama rombongan. Namun, di atas gelombang yang sama, perjalanan ini terasa setara bagi kami semua—sama-sama merasakan ayunan ombak laut utara Papua. Waktu bergulir lambat hingga fajar menyingsing, berganti siang, hingga akhirnya waktu menunjukkan pukul 16.00 WIT esok harinya. Siluet daratan Waren mulai tampak di cakrawala.

Disinilah sinilah sesungguhnya dimulai. Dari luar dek 6, kami melihat KM Dorolonda melambatkan lajunya, lalu mematikan mesin utama. Setelah pengumuman menurunkan jangkar. Kapal raksasa ini berhenti, namun bukan di samping dermaga, melainkan mengapung di lepas pantai, sekitar satu kilometer dari daratan.

Sudah hampir setahun, tantangan infrastruktur ini menjadi ganjalan utama. Sejak pertama kali menorehkan sejarah berlabuh di Kabupaten Waropen, KM Dorolonda yang memiliki panjang badannya mencapai 140 meter, belum bisa “menyentuh” bibir Pelabuhan Waren secara utuh. Penyebabnya klasik yaitu Dermaga Waren saat ini baru memiliki panjang 70 meter—hanya separuh dari ukuran sang kapal putih.

Alhasil, laut lepas menjadi ruang tunggu abadi bagi kapal ini setiap kali bertamu ke Waropen. Meski begitu, pemandangan dari kejauhan sungguh memukau. Kedatangan kapal ini telah dinanti. Bak pesta rakyat di atas air, puluhan perahu kecil bermesin motor tempel milik warga lokal bergerak lincah menyambut kapal, berhiaskan bendara-bendara peserta Piala Dunia 2026 kali ini.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

BPBD Jayawijaya Ingatkan Warga, Ada 11 Titik Panas di Beberapa Wilayah

Plt Kepala BPBD, Satpol PP, dan Damkar Kabupaten Jayawijaya Romadlon menyebutkan dari informasi yang dihimpun…

52 minutes ago

Capek dan Kurang Tidur, Ratusan Warga Antre Untuk Pijat Refleksi

   Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Papua memberikan layanan pijat kepada warga terdampak kebakaran…

2 hours ago

Masyarakatnya Ramah, Minta Warisan Leluhur Seni dan Budaya Tetap Dijaga

Para turis atau Wisatawan Mancanegara ada dari negara Inggris, Argentina, Amerika Serikat, Australia dan berbagai…

3 hours ago

147 Ribu Pengunjung dan Rp1.2 Miliar Berputar di Khalkote

Festival Danau Sentani (FDS) XV 2026 meninggalkan catatan menarik. Selama rangkaian festival berlangsung, kawasan Pantai…

4 hours ago

Kapolres Mimika Temui Kelompok yang Bertikai di Kwamki Narama

Langkah jemput bola ini dilakukan guna memediasi sekaligus mendorong kedua belah pihak menghentikan pertikaian secara…

5 hours ago

Pemkab Lanny Jaya Siapkan 3 Posko Bantuan Permanen

Pemkab Lanny Jaya juga mengambil langkah berbeda dalam penyediaan tempat penampungan bantuan untuk warganya di…

6 hours ago