Categories: FEATURES

Bermula Khawatir Susah Bimbingan dan ”Dibantai” saat Sidang

Mengenal Aulia Nisa Cahayaningrum, Wisudawan UMK Lulus Tanpa Skripsi

Aulia Nisa Cahayaningrum, wisudawan Jurusan Pendidikan Bimbingan Konseling (BK), Universitas Muria Kudus (UMK), lulus tanpa membuat skripsi. Dia juga mendapat IPK 3,95.

Laporan: Indah Susanti­_Kudus

WISUDA tanpa membuat skripsi, saat ini sudah bisa. Salah satunya yang didapat Aulia Nisa Cahyaningrum, calon wisudawan asal Program Studi (Prodi) Pendidikan Bimbingan Konseling (BK), Universitas Muria Kudus (UMK). Semua berawal dari kekhawatiran perempuan yang akrab disapa Aul itu, dengan untuk mengejar dosen pembimbing skripsi yang kadang susah ketemu.

Belum lagi, ”dibantai” penguji saat sidang skripsi. Hal itu membuatnya enggan membuat skripsi. Gayung bersambut, ada sosialisasi dari prodi yang menjelaskan, saat ini ada program bisa lulus tanpa membuat skripsi. Dengan jalur membuat artikel yang minimal dipublikasikan di jurnal nasional. Aul pun tertarik untuk memilih jalur ini. ”Saya memantapkan diri memilih membuat artikel. Pembuatannya juga ada yang membimbing atau mengarahkan. Bahkan memberi referensi jurnal,” katanya.

Setelah yakin membuat artikel, pada saat semester VI dia langsung menyusun konsep.Bekal membuat artikel juga sudah dimiliki. Sebab, saat perkulihan di Pendidikan BK, dia sering membuat artikel. ”Meski membuat artikel, isi yang saya kupas tetap dari penelitian. Saya mengangkat studi kasus yang pernah jadi pengalaman saya, saat praktik lapangan di salah satu SMA di Kudus,” ungkapnya.

Ia menceritakan, dalam pengamatan saat praktik lapangan itu, dia menemukan beberapa siswa yang mengeluh tidak nyaman dengan situasi lingkungan pertemenan. Dia kemudian membuat judul artikel ”Hubungan Antara Dukungan Sosial Peer Group (Teman Sebaya) dengan Burnout Academic (Kelelahan Akademik)”. Penelitian untuk artikel Aul, mengangkat hubungan sosial di lingkungan sekolah.

”Usai menyebar kuesioner, kemudian saya olah. Hasil yang saya dapat mengejutkan. Ada hubungan sosial yang negatif,” katanya. Hal itu, bahkan sempat diragukan oleh dosen pembimbing. Sebab, data yang didapat hasilnya negatif. Dia sampai mengulang menghitung di depan dosen pembimbing. Hasilnya memang tetap negatif. ”Artinya, sekolah yang menjadi objek penelitian saya, dukungan sosialnya tidak baik-baik saja. Yang saya teliti hubungan pertemanan sesama siswa. Kemudian, hasil yang saya temukan saya sampaikan ke guru BK sekolah itu. Mereka terkejut dan akan mengambil langkah perbaikan secepatnya,” jelasnya.

Page: 1 2

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

Bagi Kota Jayapura, keberhasilan Nelce bukan sekadar prestasi seorang pelajar. Ada nama sekolah, keluarga, Kota…

59 minutes ago

Tiga Hari Lagi, Persipura Launching di Enam Kota

Ada yang berbeda dari launching Persipura kali ini. Untuk pertama kalinya, rangkaian launching akan digelar…

7 hours ago

Sensus Ekonomi Papua Terkendala Sinyal dan Keraguan Warga

   Plt. Kepala BPS Papua, Akhmad Jaelani, mengatakan karakteristik wilayah Papua membuat proses pendataan membutuhkan…

12 hours ago

Pemkot dan Bulog Salurkan 1.122 Ton Beras untuk 37.401 Penerima

Penyaluran bantuan pangan ini menyasar 37.401 penerima bantuan pangan yang tersebar di 25 kelurahan dan…

13 hours ago

PAN Papua Panaskan Mesin Politik

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Papua bersama seluruh DPD PAN tingkat kabupaten/kota…

16 hours ago

Terima SK, Ratusan ASN Diminta Bekerja Baik Melayani Masyarakat

   Status baru sebagai ASN membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada negara…

18 hours ago