Categories: BERITA UTAMA

Polisi Perlu Bubarkan Warga yang Ngumpul Lalu Nongkrong di Jembatan Merah

JAYAPURA-Tewasnya seorang remaja bernama Andreas Rumbiak akibat terjatuh dari Jembatan Yotefa pada Kamis (26/5) masih dalam penyelidikan penyidik Polsek Jayapura Selatan.

Polisi belum bisa menentukan apakah korban terjatuh  karena kelalaian sendiri ataupun ada unsur kesengajaan. Penyidik masih mencari identitas dua rekan korban yang disebutkan pada pagi itu sempat mengantarkan korban ke rumah sakit. Hanya saja Polisi hingga kini belum menemukan dua saksi yang mengetahui awal kejadian.

“Belum banyak informasi yang kami peroleh,  sebab kami masih mencari saksi yang mengantar korban. Itu temannya tapi setelah mengantar mereka lalu pergi begitu saja,” kata Kapolsek Jayapura Selatan, Kompol Hendrik Seru, Jumat (27/5) kemarin.

Namun Kapolsek Hendrik Seru menyampaikan bahwa diduga korban duduk di atas railing dan tidak seimbang kemudian tergelincir atau terpeleset hingga jatuh.

Sementara terkait ini seorang pegiat sosial, Gunawan berpendapat bahwa patroli yang dulu sering dilakukan polisi untuk titik Jembatan Youtefa atau yang dikenal masyarakat dengan nama Jembatan Merah maupun di Ring Road sepatutnya kembali dihidupkan.

Pasalnya Jembatan Youtefa ini sering digunakan oleh warga untuk nongkrong kemudian memarkir kendaraannya di atas jembatan. Padahal secara aturan sudah jelas ini salah apalagi ada sejumlah rambu yang menyebut dilarang berhenti namun di lapangan, semua hanya dianggap sebagai pajangan.

“Ini tidak bisa dipungkiri, Jembatan Youtefa kerap menjadi tempat untuk parkir dan nongkrong padahal jelas-jelas di situ ada rambu yang melarang untuk  berhenti,” jelas Gunawan.

Selain itu ia masih sering melihat banyak anak muda yang duduk lesehan sambil ngobrol dan bercanda.  Disinilah yang kata Gunawan kerap digunakan untuk pesta miras. Nah jika bercermin dari kasus lain, orang ada kecenderungan ketika orang sudah duduk bersila kemudian melakukan pesta miras maka bisa dipastikan orang tersebut akan mencari tempat untuk buang air kecl.

“Dengan kondisi mabuk dan kepala oleng maka hampir bisa dipastikan bahwa itu juga bisa diakhiri dengan buang air. Nah saat buang air ini tubuh oleng dan kemudian terjatuh. Itu belum lagi dengan kendaraan – kendaraan yang parkir di jembatan,” jelas Gunawan.

Ia melihat bahwa saat ini di tiang jembatan juga ada toa atau pengeras suara. Seharusnya menurut Gunawan, toa tersebut bisa dimaksimal. “Jadi jangan hanya dipajang tapi tidak digunakan. Dan yang terpenting adalah bila ini tidak disikapi maka ke depan orang akan berpendapat sama,” tutupnya. (ade/nat)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: KOTA

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

16 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

17 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

18 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

19 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

20 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

21 hours ago