Categories: BERITA UTAMA

Papua Dibayang-bayangi El Nino Hingga Tahun 2027

Kota Jayapura Miliki 12 Titik Hotspot

​JAYAPURA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura menerbitkan peringatan dini terkait ancaman kekeringan dan potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Provinsi Papua. Peringatan ini dikeluarkan menyusul hasil pemantauan dinamika atmosfer-laut terkini yang menunjukkan fenomena El Niño berada pada intensitas sangat kuat dan diprediksi akan bertahan hingga awal tahun 2027.

​Ketua Tim Meteorologi Publik BMKG, Finnyalia Napitupulu, mengungkapkan bahwa fenomena iklim global ini berdampak signifikan terhadap penurunan intensitas hujan, yang memicu kondisi lingkungan jauh lebih kering dari rata-rata tahunan.

​”Berdasarkan analisis curah hujan bulan Agustus 2026, wilayah Provinsi Papua umumnya mengalami curah hujan kriteria rendah hingga menengah dengan sifat hujan didominasi Bawah Normal,” ujar Finnyalia kepada Cenderawasih Pos, Senin (24/8). Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut juga memicu terjadinya Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah area dengan kategori Sangat Pendek (1–5 hari) hingga Pendek (6–10 hari).

​Meski demikian, BMKG mencatat bahwa peluang hujan belum sepenuhnya hilang. Pembentukan awan hujan masih terjadi di beberapa tempat akibat gangguan atmosfer skala regional, seperti dinamika pola angin lokal serta aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO). Namun, pasokan curah hujan yang dihasilkan tetap jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal akibat dominasi kuat El Niño.

​Minimnya curah hujan mulai memicu kemunculan titik panas (hotspot) yang mengindikasikan tingginya kerawanan Karhutla. Berdasarkan hasil pemantauan pada Dasarian II Agustus 2026, sebaran titik panas di Papua didominasi oleh tingkat kepercayaan Sedang dan Tinggi.

​Wilayah dengan konsentrasi hotspot terbanyak antara lain ​Kabupaten Keerom terpantau 49 titik panas, ​Kabupaten Kepulauan Yapen terpantau 22 titik panas,​ Kota Jayapura terpantau 12 titik panas. ​Tingginya angka hotspot ini membutuhkan perhatian dan pemantauan ketat, khususnya pada wilayah kawasan hutan dan lahan vegetasi yang memiliki kondisi curah hujan relatif rendah.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Theo: Tak Masuk Akal Orang Papua Sandera Orang Papua

Theo menilai kasus dugaan penyanderaan itu masih belum jelas karena adanya perbedaan informasi antara pihak…

4 hours ago

OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm bagi Perguruan Tinggi di Papua

   Merespon terkait dengan kasus tersebut​, Pengamat Kebijakan Publik Papua, Dr. Methodius Kossay, M.Hum., menegaskan…

4 hours ago

El Nino Kuat Bayangi Mimika, BMKG Peringatkan Asap Kiriman dan Gangguan Penerbangan

BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika mengimbau warga Kabupaten Mimika untuk mewaspadai cuaca ekstrem akibat…

5 hours ago

Giliran Asap Negara Tetangga Resahkan Warga RI-PNG

Asap yang disinyalir dari kebakaran hutan dan lahan ini justru muncul dari arah negara tetangga…

5 hours ago

Satpol PP Siagakan 10 Personel Amankan  Kantor Dinkes Merauke

Penempatan personel tersebut dilakukan menyusul persoalan pemalangan Kantor Dinas Kesehatan yang sebelumnya membuat aktivitas pegawai…

6 hours ago

Melaju di Atas Aspal dari Malam Tembus Pagi, Terapkan Monitoring  24 Jam

Di tengah tuntutan pemenuhan  hidup, Komunitas Laskar Di Rantau (LDR) telah membuktikan bahwa keterbatasan dan…

7 hours ago