

Sopir angkot jurusan Abepura-Waena memilih mogok beroperasi dengan memarkirkan kendaraan mereka di Tanjakan Ale-ale Padang Bulan Senin (16/10) kemarin. (FOTO:Karel/Cepos)
JAYAPURA-Sopir angkutan kota (Angkot) Jayapura mulai dari wilayah dok sampai Abepura menggelar aksi mogok massal Senin (16/10) kemarin.
Menurut Koordinator Lapangan Angkot Wilayah Abepura, Sabaruddin aksi mogok tersebut dilakukan lantaran tuntutan mereka pada bulan juli lalu di DPRP tidak kunjung mendapatkan respon dari pemerintah baik Provinsi maupun Kota Jayapura.
Dimana mereka menuntut agar pemerintah dapat mengatur tarif transportasi yang berbasis online. Pasalnya tarif yang dipasangkan pada transportai online di Kota Jayapura jauh lebih rendah dari tarif angkutan konvensional.
Padahal transportasi online ini dapat dikatakan transportasi mewah namun sayang tarifnya justru jauh lebih murah dari angkutan konvensional.
“Kita tidak melarang transportasi online ada di Kota Jayapura, tapi paling tidak tarifnya lebih mahal dari angkutan konvensional,” kata Sabarudin kepada Cendrawasih pos.
Sebab dengan pemberlakuan tarif ini, berdampak pada omset transportasi konvensional.
“Bayangkan jarak satu kilo meter, tarif transportasi online hanya kisaran Rp 20 ribu, itupun dapat membawa 4-6 orang penumpang, sistem ini sangat merugikan kami yang angkutan konvesnional,” kata Sabaruddin.
Sehingga dengan begitu mereka minta agar pemerintah segera mengatur tarif transportasi online. “Apabila tuntutan kami tidak juga mendapatkan respon, maka kami akan turun kejalan melakukan aksi dengan jumlah masa yang lebih banyak lagi,” tegasnya.
Page: 1 2
Ia juga dikaitkan dengan blackout disejumlah provinsi di Indonesia. Sontak publik ikut dibuat kaget karena…
Menurut Prabowo, seluruh pejabat negara pada hakikatnya adalah pelayan rakyat. Karena itu, mereka tidak boleh…
Anggota DPR Papua jalur Pengangkatan Otonomi Khusus (Otsus) Daerah Pengangkatan Kabupaten Biak Numfor, Musa Sombuk,…
Dalam persidangan perkara Nomor 9/G/LH/2026/PTUN Jayapura ini, tim kuasa hukum masyarakat adat menghadirkan tiga orang…
Dialah Mama Emma Awinero-Tjoe. Di atas bangku panjang kayu yang menjadi saksi bisu jejak pengabdiannya,…
Ia memerintahkan seluruh Gubernur, Bupati, Camat, Hingga Kepala Desa untuk memeriksa seluruh dapur Satuan Pelayanan…