Categories: BERITA UTAMA

Papua Jangan Selalu Berlindung pada Afirmasi

Iapun menyinggung soal salah persepsi sehingga terjadi retensi atau penolakan. Dicontohkan Rumah Sakit Papua yang dibangun dengan anggaran besar untuk masyarakat Papua. Jika ada yang dirasa kurang maka sebaiknya disampaikan, bukan dipalang.

“Saya juga sudah minta kepada kementerian untuk proporsional jika ada tenaga dokter atau tenaga kesehatan yang bagus itu direkrut dengan system afirmasi. Kalau demo dipalang itu menghambat. Harus berubah dengan cara elegan,” singgung Ramses.

Iapun mengungkapkan bahwa jika harus berbicara jujur maka kebanyakan hanya mencari jabatan dan kekuasaan. Belum mampu menyingung bahwa jabatan itu amanah. Ada pejabat yang menduduki jabatan maka langsung ada kelompokisasi. Dan ini menjadi potret Papua saat ini.

“Apakah kita diam? Sejak saya menginjakkan kaki dua kali di Papua, saya katakan jangan perlakukan saya seperti orang batak, orang toraja atau orang jawa tapi saya jadi orang Papua dan saya akan bekerja dengan hati sebab apa yang dilakukan dengan hati maka itu yang akan diimplementasikan,” tambahnya.

Jika semua optimis melakukan perubahan maka yang ada saat ini akan menjadi lilin-lilin kecil. Sebab untuk membangun Papua tidak bisa hanya dengan omon-omon seperti kata pak presiden menurut Ramses. Semua harus lewat aksi.

“Saya kerjakan bagian saya dan bapak bagian bapak sisanya Tuhan. Saya juga mengajak SKPD, ASN jangan setiap ke kantor meminta sumbangan itu dikasi. Coba ada hasil yang dibuat dan itu disuport,” pinta Ramses.

Menurut Ramses membangun Papua itu tidak susah karena semua sudah ada tinggal cara berfikirnya yang dirubah.

“Kalau kita satu nafas itu mudah. Saya mengajak semua berfikir inovasi, bukan berfikir menghabiskan duit tanpa ada output atau outcome. Masyarakat harus mau menerima perubahan ke arah yang lebih baik,” saran Ramses.

Ramses memberi contoh terkait kondisi berulang. Semisal pemalangan di kantor gubernur.

” Sampai kapan kita begini dan nanti untuk menutupi kelemahan kita lalu kita salahkan orang padahal ini semakin menunjukkan kelemahan kita. Harus berubah, jangan juga dekat natalan, jelang masuk sekolah baru dipalang, sebagai orang Kristen saya malu. Apakah ini kebiasaan atau budaya,” bebernya.

Ia meminta semua menyatukan barisan dan tokoh harus memahami ini.

“Ondoafi Tabi dan Saireri ini harus duduk bersama untuk mendiskusikan Papua akan dibuat seperti apa dan mau dibawa kemana. Ada hukum adat, hukum positif itu baik tapi koridornya tetap di hukum positif. Kita menghargai adat tapi tidak mengenyampingkan hukum positif. Lalu di Papua hargai diri kamu hargai orang lain maka dengan sendirinya penghargaan itu akan diterima,” tutup Ramses. (fia/ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Realisasi APBD Papua Baru 36 PersenRealisasi APBD Papua Baru 36 Persen

Realisasi APBD Papua Baru 36 Persen

Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Papua, L. Christian Sohilait mengatakan, realisasi anggaran sebesar 36 persen tersebut…

1 day ago

Persipura Hanya Butuh 30 Pemain

Angka tersebut jauh lebih sedikit dibangdingkan musim lalu yang mencapai 35 pemain dalam satu musim.…

1 day ago

Salah Jika Menganggap Demo Identik dengan Gangguan Keamanan

Selain sebagai pusat pemerintahan, posisi strategis Jayapura membuat berbagai aksi yang digelar di kota ini…

1 day ago

Ajak Buka Buku Meski Putar Gelas, Lem Aibon, Putus Sekolah Jadi Pemandangan Sehari-hari

Berangkat dari keprihatinan melihat anak-anak muda yang tumbuh di tengah lingkungan yang lekat dengan minuman…

1 day ago

KNPB Sayangkan Adanya Aksi Tandingan

Dalam aksinya, kelompok ini mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengusut secara tuntas insiden…

2 days ago

Diduga Keracunan MBG, Puluhan Siswa di Depapre Dilarikan ke Rumah Sakit

Puluhan siswa PAUD, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura diduga…

2 days ago