Categories: BERITA UTAMA

Nelayan Indonesia Tergiur Gelembung dan Sirip Ikan di Laut PNG

MERAUKE – Penangkapan 13 nelayan Indonesia asal Kabupaten Merauke oleh otoritas PNG pada 22 Agustus lalu bahkan 1 Nahkoda kapal tewas tertembak saat mencoba diri bukan merupakan pertama kalinya. Namun kejadian yang berulang kali. Lalu apa yang menggiurkan sehingga para nelayan Indonesia melewati batas laut Indonesia dan memasuki wilayah PNG dan Australia?

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Kabupaten Merauke Rekianus Samkakai, S.STP ditemui media di ruang kerjanya, Jumat (2/9) mengungkapkan bahwa para nelayan masuk ke wilayah laut negara lain, PNG atau Australia, bukan karena tidak tahu. Sebenarnya, mereka tahu sudah masuk wilayah negara lain, tapi tergiur untuk menangkap Kakap Cina dan Sirip Hiu dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Karena gelembung kakap Cina harganya cukup mahal untuk kelas satu bisa ratusan ribu rupiah bahkan sampai jutaan.

“Mereka ke sana berburu ikan Kakap China yang secara ekonomis memang harganya sangat mahal, sehingga para nelayan mengambil risiko baik itu nelayan yang menggunakan Kapal besar, kapal kecil maupun speed boat. Mereka mengetahui konsekuensi ketika melewati batas teritorial. Mereka paham resikonya nanti seperti apa. Cuma menggiurkan dan nekat mengambil resiko itu,” tandas mantan Kepala Distrik Semangga Merauke ini.

Kejadian ini, sambung dia bukan merupakan yang pertama kali kali. Namun yang disesalkan pemerintah Indonesia dan pemerintah Kabupaten Merauke adalah kejadian penembakan terhadap KMN Calvin 02 yang menyebabkan 1 nelayan meninggal dunia .

“Sementara warga mereka (PNG, red), tanpa dokumen keimigrasian masuk wilayah Indonesia. Kita terlalu banyak memberikan toleransi berdasarkan hubungan kekerabatan dan persaudaraan di perbatasan, baik batas laut di Naukenjerai lewat Torasi maupun batas darat. Warga kita yang masuk ke PNG tanpa dokumen dokumen perbatasan negara. hukum, sedangkan warga PNG yang masuk ke kita lebih banyak dengan persuasif dengan alasan tadi hubungan kekerabatan dan kekeluargaan,”jelasnya.

Rekianus Samkakai juga mengimbau dan mengharapkan para nelayan baik kapal-kapal modern maupun tradisional untuk tidak melewati batas.

“Kami juga setiap tahunnya ada sosialisasi kepada para nelayan dan pelintas ini. Dan tahun ini di bulan akhir September atau awal bulan Oktober 2022 kami ada sosialisasi lagi bagi para pelintas batas ini. Kami harap nantinya yang hadir adalah para pemilik kapal dan Nahkoda, sehingga kami lakukan sosialisasi lintas batas yang benar-benar tepat sasaran,” pungkasnya.(ulo/tho)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: MERAUKE

Recent Posts

Dari Kopra hingga Udang Laut, Sarmi Diproyeksi Jadi Kekuatan Ekonomi Pesisir Papua

Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, meminta masyarakat terus mengembangkan potensi lokal, khususnya sektor perkebunan kelapa,…

37 minutes ago

Polda Papua Mulai Mitigasi Konflik Horizontal di Woma

Dalam rapat tersebut disepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya penambahan personel pengamanan, pelibatan tokoh gereja…

2 hours ago

Penanganan Kasus BBM Subsidi oleh Gapoktan Dipertanyakan

‘’Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Gapoktan tersebut lebih bisa dipertanggung jawabkan ketimbang Pertamini. Pertamini ini…

3 hours ago

Berkas Lengkap, Tersangka Persetubuhan Terhadap Anak Dilimpahkan ke Jaksa

Penyerahan tersangka bersama barang bukti ke Kejaksaan Negeri Merauke untuk proses selanjutnya, setelah berita acara…

4 hours ago

Bulan Ini, Pelanggan PDAM Tanah Miring dan Semangga Mulai Bayar

Bambang Setiaji mengungkapkan bahwa jumlah pelanggan PDAM untuk Kawasan Tanah Miring dan Semangga Merauke tersebut…

5 hours ago

Aliansi Petani di Merauke Ancam Akan Gelar Aksi Demo Besar-Besaran

Aksi demo damai besar-besaran ini, lanjut Aloysius Dumatubun terkait dengan proses hukum terhadap pengurus Gapoktan…

6 hours ago