Categories: BERITA UTAMA

Kekerasan Remaja Terjadi Karena Tumpulnya Nurani Manusia

Dr. Drs. Avelinus Lefaan, MS ( FOTO: Yewen/Cepos)

Avelinus Lefaan: Cegah Kekerasan, Peran Institusi Pendidikan Sangat Penting

JAYAPURA- Kasus kekerasan yang melibatkan remaja terus terjadi di Kota Jayapura. Seperti yang terjadi Selasa (31/3) kemarin, dimana ada sekira 10 orang pelaku yang masih remaja melakukan penganiayaan dengan cara pengeroyokan terhadap seorang anak dibawah umur berinisial (K) di jalur masuk antara GOR Trikora Uncen dan Tembok Kampus FKM Uncen.

Kesepulh  orang pelaku yang masih remaja ini telah diamankan oleh pihak Kepolisian Daerah (Polda) Papua, untuk dilakukan proses hukum sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap korban.

Menanggapi masih adanya kasus kekerasan yang melibatkan remaja berusia produktif, Sosiolog Universitas Cenderawasih, Dr. Drs. Avelinus Lefaan, MS mengatakan, manusia menurut teori Thomas Hobbes adalah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya).  Oleh karena itu, kebrutalan dan kekerasan selalu disebabkan karena tumpulnya nurani manusia.

“Kebrutalan, kejahatan, dan kenakalan remaja merupakan salah satu faktor tumpulnya nurani manusia, yaitu rasa iba, rasa bersalah yang telah telah dibuat dan dianggap alami,” katanya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos di Perumnas III, Waena, Distrik Heram, Kamis (2/4).

Menurut dosen yang akrab disapa Lefaan ini, sifat manusia tampaknya universal dari latar belakang apapun. Yang menjadi masalah adalah setiap kelompok selalu mengakui bahwa dirinya lebih baik dari orang, sehingga bisa melakukan apa saja, termasuk kekerasan tersebut.

Oleh karena itu, salah satunya misalnya kenakalan remaja yang dilakukan merupakan kapasitas sekelompok orang untuk mempunyai rasa empati yang sangat tergantung bagaimana seseorang didik di lingkungannya. Kalau seandainya seseorang kurang dididik di rumahnya, maka kapasitas manusia untuk merasa empati terhadap orang lain itu memang sama sekali tidak dimiliki.

“Kenakalan-kenakalan remaja yang terjadi ini sebenarnya sangat ditentukan dengan seberapa besar seseorang dididik dalam lingkungannya. Pengaruh pendidikan dalam rumah sangat berpengaruh erat dengan seberapa besar kapasitas orang mempunyai rasa empati kepada orang lain,” jelasnya.

Untuk mencegah tidak terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh para remaja, maka Ketua Jurusan Sosiologi Fisip Uncen ini menyebutkan bahwa peran dari institusi pendidikan, terutama keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak.

“Sekolah sebagai institusi pendidikan tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tapi juga mendidik anak-anak sesuai dengan perkembangan dunia yang ada,” tuturnya.

“Institusi-institusi seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan mereka bisa memberikan sanksi sesuai dengan aturan supaya ini menjadi sebuah efek jera atau ganjaran bagi mereka (para pelaku), sehingga tidak mengulangi lagi perbuatan mereka,” pungkasnya. (bet/nat)

newsportal

Recent Posts

Polisi Siap Tindak Tegas Kasus Intimidasi Sopir Taksi Bandara

Polres Jayapura memastikan akan menindak tegas setiap kasus dugaan intimidasi yang dilakukan oknum sopir taksi…

41 minutes ago

DPRK Jayapura Minta Pemerintah Tindaklanjuti 35 Rekomendasi

Ketua DPR Kabupaten Jayapura, Ruddy Bukanaung mengatakan DPRK Kabupaten Jayapura telah menyerahkan sebanyak 35 rekomendasi…

2 hours ago

Guru TK Didorong Jadi Pondasi Wajib Belajar 13 Tahun

Perayaan HUT Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) ke-76 yang dipusatkan…

3 hours ago

KWI Soroti Luka Sosial Papua

Dalam seruan tersebut, KWI menilai situasi sosial di Indonesia menunjukkan adanya luka sosial yang semakin…

4 hours ago

Aktivitas Pelayanan Dipindahkan Ke Kantor Kelurahan Hinekombhe

Setelah dipalang aktivitas pelayanan Kantor Distrik Sentani untuk sementara dipindahkan ke Kantor Kelurahan Hinekombhe. Hal…

5 hours ago

Wamendagri: Data OAP Jadi Dasar Utama Kebijakan Otsus Papua

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk mendorong percepatan pelaksanaan sensus orang asli Papua (OAP)…

1 day ago