

Didampingi Ondoafi Kampung Woor, Peter Tafo, tim kopasus menemui dan berdiskusi dengan Vitalius Bate, ayah dari korban Bastian Bate di kediamannya di Arso II, Keerom, Senin (31/10). Kedua orang tua dari Bastian dan Laurens meminta agar sang anak bisa segera dipulangkan. (Solikin For Cepos)
JAYAPURA – Perkembangan terakhir kasus penganiayaan tiga anak di bawah umur yaitu Lauren, Bastian dan Rahmad Paisei yang dilakukan oknum TNI dari Kopasus yang ngepos di Pos Satgas Damai Cartenz, Arso II, Keerom hingga Senin (31/10) masih dalam proses penyidikan. Pihak kopasus sendiri terus memantau perkembangan hukumnya dan membangun koordinasi dengan pihak keluarga.
Dari pertemuan terakhir pada Senin (31/10) yang dilakukan ke kediaman Benyamin yang merupakan ayah dari korban bernama Lauren dan Vitalius Bate, ayah dari korban bernama Bastian, terlihat pihak keluarga tak lagi terlalu ngotot seperti kejadian hari pertama.
Bahkan pertemuan yang juga dihadiri Ondoafi Kampung Woor, Peter Tafo ini diakui bahwa tindakan yang dilakukan oknum kopasus ini meski diprotes banyak orang namun dianggap lebih seperti bentuk pembinaan.
Namun dari pertemuan tersebut, kedua orang tua, Benyamin dan Vitalius Bate meminta agar kedua anaknya segera dipulangkan. “Tadi (kemarin) kami lakukan pertemuan dan Benyamin yang merupakan ayah dari Laurens menangis, ia meminta agar anaknya bisa segera dipulangkan. Mereka sudah bisa memaklumi situasnya jadi itu permintaanya,” ujar Sertu Solikin, Baintel di Pos Satgas Damai Cartenz yang ikut mengawal kasus ini, Senin (31/10).
Ia menyampaikan bahwa anggotanya juga ikut mengawal keduanya di rumah sakit dan sempat kaget karena Laurens dan Bastian ternyata melepas inpus dan meminta dipulangkan. “Anggota kami panik karena inpusnya dilepas sendiri kemudian mereka keluar dan duduk di halaman. Mereka sampaikan bahwa mereka lapar dan ingin pulang,” katanya. Sementara Ondoafi Kampung Woor, Peter Tafo tak menampik jika kelakuan ketiga anak di bawah umur yang menjadi korban penganiayaan ini cukup meresahkan.
Kata Peter, ketiganya baik Lauren, Bastian dan Rahmad dikenal nakal. Telah dicap merah oleh warga karena kerap melakukan pencurian. “Mereka (tiga korban) ini sudah sering bikin pusing, mereka keliling hingga ke Koya dan Pelabuhan Jayapura untuk mencari apa yang bisa dibawa pulang,” katanya. Ia sendiri menunjukkan dua barang yang pernah dieksekusi oleh para korban yakni mesin chain saw dan mesin sanyo.
“Selaku tokoh saya kaget juga dengan informasi ini dan setahu saya ketiga anak ini biasa main dan diberi makan di pos namun kok malah mengambil barang?. Saya sediri sempat menangkap keduanya dengan barang bukti mesin chain saw dan saya pikir kejadian ini bisa menjadi evaluasi kita semua terutama pihak keluarga untuk mendidik anaknya agar tak terjadi hal serupa,” tutupnya. (ade/wen)
Menyikapi potensi gangguan keamanan jelang hari kemerdekaan. Pengamanan ketat akan diberlakukan secara menyeluruh, mencakup wilayah…
Danrem 174/Anim Ti Waninggap Brigjen TNI Mustakim, mengingatkan masyarakat Papua Selatan agar lebih bijak menyikapi…
Kemenag kini menghadirkan aplikasi AMAN, aplikasi ini bukan sekadar portal pengaduan biasa. Platform resmi…
Dalam lomba terdapat tiga kategori yang diperlombakan, yakni Tata Kelola SPPG Polri, Inovasi Kepala SPPG…
Pangdam mengatakan serah terima jabatan di lingkungan TNI Angkatan Darat merupakan bagian dari proses pembinaan…
Berdasarkan keputusan tersebut, Kabupaten Keerom menerima alokasi dana dengan rincian Tambahan DAU Rp 67.250.912.000, penyaluran…