Kedua, pendampingan ilmiah oleh perguruan tinggi dan lintas sektor untuk memantau dampak MBG terhadap status kesehatan anak, termasuk indikator kebugaran dan antropometri. Ketiga, kebijakan MBG harus fleksibel dan terbuka terhadap kajian ilmiah. Setiap masukan berbasis bukti perlu segera direspons agar program terus membaik.
“Kalau tidak dievaluasi, jangan sampai pada 2045 justru generasi ini menjadi beban kesehatan,” pungkas Mirza.
Dengan berbagai catatan tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya menjadi program populis jangka pendek, tetapi benar-benar menjadi fondasi kuat bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Dinas Kesehatan Kabupaten Merauke menyatakan terjadi peningkatan kasus campak yang terjadi saat ini. Penyebarannya diduga…
Keduanya adalah pasangan tuli yang kini tengah merintis usaha berjualan kopi di Kotaraja dalam tepatnya…
Ia menjelaskan, Kapal Papua Baru bukan satu-satunya yang tenggelam di kawasan tersebut. Saat ini tercatat…
Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang warga bernama Kevin Febrian Chen mengalami luka parah dan meninggal dunia…
Menurutnya, seminar ini menjadi wadah untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan hasil kajian mengenai biodiversitas Papua,…
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Dirdik Jampidsus) Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, menegaskan…