AI tidak bekerja dari empati yang lahir dari pengalaman manusia, melainkan berdasarkan pola data dan algoritma. AI mungkin dapat memberikan saran umum ataupun membantu pengguna merumuskan perasaan, namun ia tidak bisa menangkap konteks emosional secara mendalam. Dalam kasus tertentu, terutama yang berkaitan dengan gangguan mental yang serius, peran tenaga profesional tetap tidak tergantikan.
Fenomena curhat ke AI menunjukkan bahwa anak muda membutuhkan ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. AI mungkin dapat menjadi teman bicara sementara, namun hubungan manusia tetap memiliki peran penting dalam membangun kesehatan mental yang berkelanjutan. (*)
Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos
BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS https://www.myedisi.com/cenderawasihpos
UPDATE Berita Terbaru Cepos di Saluran https://whatsapp.com/channel/0029VbCNwCXAO7R8KvdYUG3Q
Page: 1 2
Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut (LALA) dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Kelas II Jayapura Semuel…
Penyidik juga sebelumnya telah memintai keterangan dari sejumlah saksi pasca kejadian tersebut. Ipda Teguh melanjutkan,…
Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang…
Wakil Sekretaris Jenderal PB PGRI Wijaya menyatakan, Indonesia menghadapi krisis guru yang nyata dan struktural.…
Isu reshuffle kembali menguat setelah kekosongan posisi Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono. Hal ini…
Mantan Presiden RI Joko Widodo menegaskan bahwa anak sulungnya sekaligus Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming…