

KAWASAN WISATA_Kasus HIV-AIDS di Papua saat ini terus meningkat, salah satunya akibat pergaulan bebas. Tampak kawasan Pantai Hamadi, yang bisa menjadi tempat wisata masyarakat yang jauh dari aktifitas pergaulan bebas masayrakat, khususnya kaum muda. (FOTO: Agung/Cepos)
JAYAPURA-Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Dr. Robby Kayame, SKM., M.Kes, mengatakan akibat tingginya pergaulan bebas di Papua mengakibatkan kasus HIV AIDS semakin meningkat. Bahkan sampai tahun 2023 tercatat sekitar 2000 penderita HIV-AIDS.
Menurutnya, wilayah yang paling tinggi kasus HIV-AIDS ada di Papua Tengah, Daerah Mamta, Pegunungan, dan beberapa wilayah lainnya di Papua.
“Kalau Papua Selatan kurang,” kata Robby Kayame di Jayapura, Kamis (10/8).
Dari jumlah kasus HIV-AIDS yang ada, sebagian besar penderita HIV-AIDS terjadi pada usia produktif. Selain karena pergaulan seks bebas, juga konsumsi obat yang tidak teratur. “Kendala utama juga, karena keterbatasan SDM tenaga kesehatan,” kata Robby.
Bahkan menurutnya Tenaga Kesehatan di Papua baru terisi sekitar 60 persen. Sehingga tidak semua rumah sakit memiliki tenaga kesehatan yang lengkap. “Dokter spesialis kurang, jadi kendala ini juga harus kita benahi,” ujarnya.
Adapun langkah yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan, diantaranya dengan memperluas wilayah pemeriksaan dan pengobatan. Serta sosialisasi rutin kepada masyarakat. “Tidak bisa sendiri, harus adanya dukungan berbagai pihak,” harapnya.
Selain HIV AIDS juga kasus Malaria, dimana menurut Robby Kayame Kasus Malaria di Papua masih sangat tinggi. Hal ini disebabkan, selain karena kondisi wilayah, tapi juga polah hidup masyarakat.
“Masyarakat masih banyak yang tidak pakai kelambu, ini yang menjadi kendala sehingga kasus malaria di Papua masih tinggi,” kata Robby.
Diapun mengharapkan adanya dukungan dari lintas sektoral, sehingga di tahun 2030 kasus malaria di Papua dapat ditekan menurun. “Pengobatan masif kita lakukan, tapi pola hidup sehat masyarakat sangat perlu,” ungkap Robby Kayame.
Sementara itu, kasus lainnya yang masih sangat tinggi di Papua, adalah kasus Stunting. Tahun 2023 kasus stunting masih mencakup 34, 6 persen. Hal ini juga disebabkan karena polah hidup masyarakat yang masih sangat rendah, terhadap asupan gisi. Serta minimnya pengetahuan tentang pola hidup sehat.
“Pokoknya masalah kesehatan di Papua, masih menjadi perhatian serius banyak pihak, saya harap semua pihak, baik pemerintah dserah maupun pusar peduli akan kondisi kesehatan di Papua,” pungkasnya. (rel/tri)
Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayawijaya melalui Komis C melakukan Sidak ke Dinas Sosial untuk…
Setahun berikutnya, ia menuntaskan S2 di jurusan Informatika dari kampus yang sama pada 2013. Sejak…
Aviasi Penerbangan Trigana Air Service saat ini sedang melakukan efisiensi biaya operasional penerbangan yang cukup…
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan menggandeng Global Green Growth Institute (GGGI) dan para pemangku kepentingan…
Setelah bencana longsor yang terjadi di Distrik Tagineri, Tanggime dan Bolakme (Banjir), kini giliran Distrik…
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke Romanus Kande Kahol mengatakan, salah satu alasan nikah…