Categories: METROPOLIS

Merasa Didiskriminasi dari Jawaban Jubir Satgas Covid

Dr Sumule: Bagi Saya ini Miss Komunikasi

JAYAPURA – Seorang wartawati di Jayapura bernama Lidya Salma Faukubun atau yang sering dipanggil Lala mengaku kecewa atas jawaban Ketua Satgas Covid 19 Papua, dr Silwanus Sumule yang dianggap tak bijak dan melakukan tindakan diskriminasi terhadap dirinya saat menanyakan soal waktu hasil pemeriksaan swab. Saat itu (Jumat,10/7) Lala menanyakan soal berapa lama hasil swab bisa  diketahui namun jawaban Jubir tidak sampai 14 hari hari untuk mengetahui hasil swab. 

Lidya Salma memegang surat keterangan hasil swab yang  menyatakan dirinya negatif. Ia merasa kecewan dengan jawaban Jubir Satgas Covid 19 Provinsi Papua yang dianggap diskriminasi. (Gamel Cepos)

 Setelah itu Lala mengaku bahwa ia sedang menunggu hasil swab dan disitulah insiden terjadi. Menurut wartawan RRI ini ia menanyakan soal waktu lantaran sudah 14 hari ia melakukan karantina mandiri namun tak kunjung ditelepon petugas. Ia berpatokan bahwa jika tak dihubungi biasanya menandakan pasien tersebut negatif. Namun saat mengetahui Lala belum mengantongi hasil swab inilah dr Sumule langsung menjawab dengan jawaban yang dianggap tak bijak tadi.

 “Jadi siang itu saya bersama beberapa wartawan sedang ngobrol bersama dr Silwanus di ruangan ngopi di Swisbell Hotel. Sayap bertanya soal butuh berapa lama hasil swab diterima  dan dijawab hanya beberapa hari dan tidak sampai 14 hari. Tapi setelah saya bilang bahwa saya yang sedang menunggu hasil swab itulah ia langsung meminta saja menjauh dengan gesture mengusir,”cerita Lala, Senin (13/7). Lala mengutarakan bahwa pertanyaan ini dibawa dengan bentuk obrolan ringan dengan harapan dokter Silwanus bisa menjadi tempat curhat  sekaligus diskusi namun responnya malah tidak diduga. 

 “Saya pikir sebagai dokter senior dan berstatus sebagai Jubir harusnya tidak menjawab seperti itu mengingat ia pasti sering menangani pasien positif. Harusnya jawabannya itu memberi solusi, bukan seperti menghardik seolah – olah saya pasien positif. Ini terlihat sekali  ia ketakutan karena meminta saya menjauh sementara saya belum dipastikan positif,” imbuhnya. Lala sendiri mengungkap soal awalnya ia melakukan swab dimana saat melakukan rapid tes pada 29 Juni, hasilnya ia reaktif. 

 Esoknya iapun melakukan swab dan seharusnya beberapa hari setelah itu ia sudah bisa mendapatkan hasilnya namun ternyata tidak dan ini sudah 14 hari. Iapun berinisiatif untuk mengecek langsung pada Sabtu (11/7) namun jawaban petugas menyampaikan bahwa seharusnya hasil swabnya sudah keluar. Iapun diminta untuk kembali hari Senin (13/7). “Dan tadi saya baru cek hasil swabnya ternyata negatif, nah dari waktu swab saja sudah molor lama sekali dan saya tidak ditelepon dan saya berpatokan kalau saya ditelepon artinya saya positif tapi ini tidak ditelepon – telepon,” bebernya. 

 Sementara, dr Sumule kepada wartawan Senin kemarin menjelaskan bahwa setelah mendengar pengakuan Lala ia kaget dan menganggap ada masalah sebab  Lala reaktif namun berada di luar. “Jujur saya kaget dan menganggap ini ada masalah. Tapi puji Tuhan ia negatif sebab kalau positif bagaimana?,” beber Sumule dari rekaman yang disebar lewat WA grup. Ia menambahkan bahwa tak ada tendensi apa – apa dari ucapannya itu namun hanya kaget karena seharusnya disiplin melakukan karantina. 

 “Terlepas dari semua ini saya tak ada tendensi apa – apa. Lalu soal stigma saya pikir tidak kesana juga. Saya sudah mengerjakan 26 kasus covid dan  panggilan nurani saya tidak mungkin melakukan stigma,” jawab. Iapun menganggap tak ada persoalan lagi dan Sumule  menganggap masih banyak yang lebih penting yang harus ditangani “Setelah saya berdikusi dengan teman – teman saya berada dalam posisi tidak akan saling menjawab,masih ada hal – hal yang jauh lebih penting yang harus saya kerjakan dan bagi saya ini miss komunikasi,” tutupnya. (ade/gr/wen)

newsportal

Recent Posts

Pangkogabwilhan Diminta Evaluasi Sistem Operasi di Papua

Mandenas menilai peristiwa tersebut berpotensi terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Jika korban mencakup perempuan…

12 hours ago

Target Sentuh Atap Langit, Temui Masjid Megah di Tepi Danau

Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak…

13 hours ago

Hitung-hitungan Dana Otsus Harus Sampai Akhir Tahun

Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Papua, Muflih Musaad mengatakan penyusunan usulan dilakukan mengacu pada kriteria penggunaan…

19 hours ago

Pengelolaan Sagu Harus Bisa Berkelanjutan

Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus…

20 hours ago

Papua Lepas 840 Calon Jemaah Haji

Menariknya, Aryoko juga meminta para jamaah untuk mendoakan Provinsi Papua, agar pembangunan di Papua bisa…

21 hours ago

Terapi Baru untuk Kanker Stadium Lanjut Kini Tersedia di Dalam Negeri

“Pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal.…

1 day ago