Categories: MIMIKA

Persembahan Tari Perang Suku Amungme, Angkat Isu Sebelum Masuk Injil

MIMIKA – Tari perang menjadi salahsatu tarian yang ditampilkan dalam Festival Budaya Lokal Amungme Kamoro yang digelar Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) di Lapangan Eks Pasar Swadaya, (Pasar Lama), Mimika, Papua Tengah, Rabu (26/6/2024).

  Suku Amungme memiliki tradisi pertanian berpindah, dan berburu. Mereka mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa.

Untuk bertahan hidup, sebelum mengenal Injil, suku Amungme juga punya tradisi perang dengan berbagai skala dengan sebab akibat tertentu.

Dalam festival budaya lokal Amungme Kamoro ini, untuk pertama kalian tarian perang yang dipersembahkan sekelompok pemuda asal Suku Amungme.

Saat tarian perang dimulai, para anggota kelompok tari menyampaikan pesan moral melalui setiap gerakan yang mengisahkan kehidupan sosial masyarakat Amungme di masa lalu sebelum mengenal Injil.

Ragam gerakan seni tari perang ini pun larut dibawakan mereka bersama kisah-kisah kehidupan masa lalu Suku Amungme ke dalam setiap mata para hadirin yang menyaksikan.

Penanggungjawab grup tari, Elinus Balinol Mom menjelaskan, dahulu, masyarakat Amungme banyak mengalami konflik sosial yang timbul dari berbagai persoalan.

Budaya perang adat masyarakat Amungme bukanlah sesuatu hal yang sembarangan. Kata Elinus, ada sederet ketentuan yang harus dipatuhi oleh kelompok yang hendak berperang.

“Jadi ketika terjadi masalah lalu perang itu tidak sembarang orang melakukan pembunuhan. Ada mau melakukan perang atau pembunuhan itu mereka akan sampaikan informasi kepada pihak lawan bahwa saya akan melakukan ini (perang-red), saya akan serang, akan lakukan pembunuhan karena ini (pokok masalahnya-red). Baru mereka jalan adakan perang,” jelasnya.

Elinus melanjutkan, dalam perang adat, ada tokoh-tokoh yang wajib dilindungi, termasuk perempuan.  Sampai pada masuknya Injil, tokoh yang memperkenalkan Injil kepada masyarakat Amungme menekankan agar kebiasaan tersebut harus dihilangkan.

Kata Elinus, ini menjadi pesan moral yang harus disampaikan kepada masyarakat di zaman serba moderen saat ini.

“Jadi ini kita memperagakan bahwa dulu memang kita hidup seperti itu tapi setelah Injil datang itu kita sudah diterangi, jadi kami yang ada ini anak-anak terang. Nilai-nilai ini yang kita sampaikan supaya orang melihat bahwa orang Amungme ini suka perang, tidak,” jelasnya. (mww)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Theo: Tak Masuk Akal Orang Papua Sandera Orang Papua

Theo menilai kasus dugaan penyanderaan itu masih belum jelas karena adanya perbedaan informasi antara pihak…

1 day ago

OTT Rektor Unsoed Jadi Alarm bagi Perguruan Tinggi di Papua

   Merespon terkait dengan kasus tersebut​, Pengamat Kebijakan Publik Papua, Dr. Methodius Kossay, M.Hum., menegaskan…

1 day ago

El Nino Kuat Bayangi Mimika, BMKG Peringatkan Asap Kiriman dan Gangguan Penerbangan

BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika mengimbau warga Kabupaten Mimika untuk mewaspadai cuaca ekstrem akibat…

1 day ago

Giliran Asap Negara Tetangga Resahkan Warga RI-PNG

Asap yang disinyalir dari kebakaran hutan dan lahan ini justru muncul dari arah negara tetangga…

1 day ago

Satpol PP Siagakan 10 Personel Amankan  Kantor Dinkes Merauke

Penempatan personel tersebut dilakukan menyusul persoalan pemalangan Kantor Dinas Kesehatan yang sebelumnya membuat aktivitas pegawai…

1 day ago

Melaju di Atas Aspal dari Malam Tembus Pagi, Terapkan Monitoring  24 Jam

Di tengah tuntutan pemenuhan  hidup, Komunitas Laskar Di Rantau (LDR) telah membuktikan bahwa keterbatasan dan…

1 day ago