Categories: MERAUKE

Dua Bulan Terakhir,  ABK Meninggal Cukup Tinggi

Dr. Rahmadani saat melakukan visum terhadap jenazah ABK Nelayan di kamar mayat  RSUD Merauke, Kamis (10/12)  ( FOTO: Dr. Rahmadani for Cepos)

MERAUKE – Dalam 2 bulan terakhir  ini, jumlah Anak Buah Kapal (ABK) Nelayan  yang meninggal cukup tinggi.  Dokter Kesehatan (Dokkes) Polres Merauke dr. Rahmadani  mengungkapkan,  di bulan November 2020 jumlah ABK nelayan yang meninggal dunia  sebanyak 4 orang. 

   Sementara di bulan Desember ini sudah ada 2 orang, sehingga  dalam 2 bulan terakhir  ini totalmya sudah mencapai 6 orang.  Dokter Rahmadani  menjelaskan, ABK Nelayan yang meninggal tersebut rata-rata karena sakit.

    Dokter Rahmadani mengaku belum mengetahui secara pasti  penyebab  kematian dari ABK tersebut. Sebab, ada yang tidak memiliki riwayat sakit tapi tiba-tiba meninggal dunia. “Ada yang tidak punya riwayat sakit tapi  tiba-tiba meninggal dunia,” katanya. 

  Hanya saja, lanjut Rahmadani, untuk mengetahui secara pasti penyebab  kematian dari ABK tersebut harus dilakukan otopsi. “Hanya saja, pihak keluarga  menolak dilakukan otopsi, sehingga yang dilakukan hanya pemeriksaan luar atau visum terhadap jenazah,’’ katanya. 

  Dari visum yang dilakukan terhadap jenazah-jenazah tersebut tidak  ditemukan adanya tanda kekerasan di tubuh  dari para  jenazah   ABK tersebut. ‘’Curiganya memang karena penyakit. Hanya itu hanya dicurigai saja. Tapi  untuk membuktikan sebenarnya harus dilakukan bedah mayat,” jelasnya. 

  Apalagi  ada yang meninggal tersebut  ada yang umurnya masih sangat muda  sekitar 20-an.  Kematian  para nelayan tersebut  kata dokter Rahmadani, tidak diketahui apa ada kaitannya dengan masalah jam kerja yang mungkin berlebihan diatas kapal  atau tracing saat naik kapal tidak ketat.  “Harusnya dari awal itu, riwayat penyakitnya benar-benat diselidiki dengan baik,’’ tandasnya. 

   Apalagi  jika para ABK tersebut  sudah kerja berat dan saat istirahat  tidak digunakan dengan baik namun digunakan main HP. Kemudian soal  makanan di atas kapal  yang kemungkinan lebih banyak  makan mie instan. “Kemarin  memang sudah kita pertemuan dengan KKP dan dipanggil semua pemilik kapal,  sekitar  akhir 2019. Dalam pertemuan itu, mereka rata-rata mengatakan bahwa  scraning sebelum naik kapal itu ada. Tapi, kita menemukan banyak yang  meninggal,” tandasnya. (ulo/tri)   

newsportal

Share
Published by
newsportal

Recent Posts

Alur Perjalanan Dinas DPR Papua Ditelusuri

Kasus yang turut menyeret nama mantan Sekretaris DPR Papua berinisial JJ tersebut kini memasuki tahap…

4 hours ago

SD YPK Elim Wouma Ludes Terbakar

Menurutnya, usai mendapat laporan masyarakat anggorta dari Polres Jayawijaya langsung merespon ke lokasi tersebut dan…

4 hours ago

Napi Tipikor di Lapas Abepura Diperlakukan Sama

  Prinsip kesetaraan di mata hukum dan tata kelola pemasyarakatan menjadi komitmen utama manajemen Lapas…

5 hours ago

Kemarau Panjang Pengaruhi Peningkatan Inflasi di Papua Pegunungan

Badan Pusat Statistik  (BPS) Kabupaten Jayawijaya memastikan musim kemarau panjang sangat mempengaruhi inflasi di daerah.…

5 hours ago

Giliran 330 Guru Non OAP Ditarik dari Distrik-distrik

Kepala Dinas Pendidikan Kaleb Asso S.PD, M.PD menyatakan menyikapi situasi keamanan saat ini di Kabupaten…

6 hours ago

Ratusan Karyawan PT MNM Protes Soal Ketenagakerjaan

Dalam aksi tersebut, para karyawan menyampaikan sejumlah aspirasi yang berkaitan dengan kondisi ketenagakerjaan di perusahaan.…

6 hours ago