“Nggak bisa juga, marah dia (tentara Israel-Red). Akhirnya datang satu lagi bawa tang besar pemotong pagar besi, baru bisa dipotong gelang saya. Habis itu baru tangan saya diborgol besi,” ungkap Abeng. Suasana menegangkan itu pun kelar. Abeng kemudian diminta mengenakan pakaian kembali. Setelah itu jurnalis senior ini kembali menjalani interogasi dari meja satu ke meja yang lain selama hampir empat jam lamanya.
Kabar baik datang. Di sela-sela menjalani proses interogasi, ternyata tim pendamping hukum dari ‘Adalah’ (tim bantuan hukum Palestina) datang. Di situ Abeng diberikan intruksi agar tidak menandatangani apapun dokumen yang disodorkan petugas.
“Habis itu, sudah mau keluar imigrasi, pintu terakhir, baru kaki diborgol,” kata Abeng.
Penderitaan kembali terjadi. Usai kelar menjalani interogasi lanjutan, Abeng dan ratusan tawanan lain satu persatu dimasukan ke mobil baja. Di mobil baja yang dijejali 26 orang, Abeng diminta menunggu selama hampir empat jam.
“Nggak ada makan, air, kencing di situ. Nggak tahu kita dibawa ke mana,” kata Abeng. Usai menunggu cukup lama, mobil baja yang ditumpangi Abeng dan puluhan tawanan lain, akhirnya melakukan konvoi bersama ratusan mobil baja yang lain, menempuh perjalanan selama hampir enam jam lamanya melewati padang gurun.
“Kita tahunya dibawa ke gurun. Ternyata kita dibawa ke penjara. Intinya itu penjara teroris. Karena waktu pas kita turun di penjara ada petugas yang bilang ‘selamat datang di penjara teroris’,” ungkap Abeng sembari mengingat nama penjaranya.
Selanjutnya setelah mengingatnya, Abeng bercerita jika penjara yang dimasukinya merupakan penjara Kedziot. Sebuah penjara yang terletak di Gurun Negev, sekitar 72 kilometer barat daya Beersheba
.“Di situ kita di siksa lagi tuh. Pas mau masuk penjara disuruh jalan jongkok dirantai. Kita selalu pegang badan orang di depan sambil menuduk. Kita nggak tahu orang yang di depan atau belakang. Kalau putus barisan, kita ditendang. Kalau tersungkur ditarik lagi masuk barisan,” urainya.
Di penjara yang masuk dalam kawasan pusat militer terluas di Israel itu, Abeng merasa khawatir. Musababnya, para tantara Israel tak bisa menyebut namanya dengan benar. “Jadi mereka panggil saya Bang-bang. Ada yang panggil Bong-bong from Indonesia,” ucapnya.
Selain itu, kekhawatiran lainya menurut Abeng, dengan perawakannya kurus, tinggi, dan berambut panjang, dirinya disebut ‘Lady Boy’ di kalangan tantara zionis yang berjaga di penjara Kedziot.
“Saya disebut Lady Boy. Nah di situ pas ada pemeriksaan telanjang, saya khawatir, karena diperiksa telanjang lagi satu-satu di suatu ruangan,” kata Abeng.
Kekhawatiran serupa juga ketika malam telah gulita. Abeng pun tak berani tidur di bagian pinggir, karena takut diapa-apakan oleh pasukan zionis. Adapun pemeriksaan telanjang pertama menurut Abeng, seluruh tubuhnya dicek organnya. Setelah itu dalam pemeriksaan kedua, saat telanjang diminta menghadap tembok, kaki diminta mengangkang.
Pertamina Patra Niaga mengungkap alasan di balik kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis…
"KTT ASEAN dengan Rusia? Ya di Kazan ya, tanggal 17," kata Havas di Kompleks Istana…
Berdasar laporan yang diterima oleh Komjen Ramdani, lebih dari 90 persen kejahatan jalanan, insiden, dan…
Ia merupakan striker yang membunuh mimpi Persipura pada partai penentu lolos tidaknya kedua tim melaju…
Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menilai RSUP Jayapura telah menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, nyaman,…
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Merna Cinthia, didampingi hakim anggota Irfan Amos Sampe…