Kondisi Kota Jayapura yang terus mengalami perkembangan hingga kini di usiannya yang genap 116 tahun. (foto:Dok/Cepos)
Refleksi Perkembangan Kota Jayapura di HUT Ke-116
Hari Ulang Tahun (HUT) ke-116 Kota Jayapura pada Sabtu (7/3) kemarin menjadi momen penting bagi pemerintah dan seluruh masyarakat untuk melihat kembali arah pembangunan kota ke depan. Kenangan dan harapan selalu muncul di momen ulang tahun ini.
Laporan: Carolus Daot_Jayapura
Salah satu dari Anggota DPR Papua anak asli Port Numbay, Alberth Merauje mengaku menyaksikan langsung perubahan Kota Jayapura sejak dirinya lahir dan besar di Kampung Enggros pada tahun 1960-an. Menurut Alberth, pada masa lalu kondisi lingkungan Kota Jayapura sangat bersih dan kaya akan sumber daya alam, terutama di kawasan Teluk Youtefa.
“Sejak saya lahir dan dibesarkan di Kampung Enggros sampai sekitar tahun 1980-an, kondisi kota ini seperti Return to Eden. Alamnya sangat bersih, teluknya jernih dan kehidupan biota laut sangat melimpah,” ujar Alberth, Sabtu.
Ia mengenang pada masa itu masyarakat Kampung Enggros dengan mudah memperoleh berbagai hasil laut seperti ikan, kepiting dan bia di sekitar Teluk Youtefa. “Dulu kami turun di kolong rumah saja sudah bisa melihat ikan-ikan. Air di Teluk Youtefa sangat bersih, tidak ada sampah. Kami bersama orang tua bisa mencari bia dan kepiting dengan mudah karena semuanya tersedia dengan berlimpah,” katanya.
Selain laut yang masih alami, sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Youtefa juga dalam kondisi bersih dan belum tercemar. Namun seiring perkembangan kota, kondisi tersebut kini dinilai mengalami perubahan cukup signifikan.
Alberth menilai pada usia Kota Jayapura yang telah mencapai 116 tahun, berbagai persoalan mulai muncul, baik dari sisi lingkungan, budaya maupun kehidupan masyarakat adat.
“Yang saya lihat sekarang ini terjadi degradasi dalam banyak hal. Bukan hanya lingkungan alam, tetapi juga peradaban dan nilai-nilai budaya masyarakat adat Port Numbay,” ungkapnya.
Ia menuturkan, masyarakat adat di 10 kampung adat Port Numbay seperti Kayu Batu, Kayu Pulo, Tobati, Enggros, Nafri, Skouw, Mosso, Koya Koso, Yoka dan Waena kini menghadapi perubahan sosial yang cukup besar.
Guntur menjelaskan, kejadian bermula ketika korban didatangi seorang pria yang tidak dikenal dengan alasan…
Pemerintah Kota Jayapura segera mengambil langkah untuk membenahi kondisi Pasar Mama Papua yang saat ini…
Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pendidikan berkomitmen memperkuat layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Salah…
Rustan mengatakan, persoalan tersebut diketahui setelah adanya laporan dari masyarakat dan pemberitaan di media…
Pemerintah Kota Jayapura memastikan pembangunan dan penyiapan rumah singgah bagi masyarakat penyandang masalah sosial terus…
Warga Kampung Biak, Kelurahan Abepantai, Distrik Abepura, mengaku jenuh menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi…