Categories: FEATURES

Dihuni 85 Santri, Sempat Bertahan Dua Minggu Tanpa Beras

Melihat Lebih Dekat Kondisi Pondok Pesantren Al Masthuri yang Minim Perhatian Pemerintah

Hidup sebagai santri ternyata membutuhkan efort lebih. Tak hanya mengikuti jadwal yang ditentukan oleh pengurus Ponpes tetapi juga menyesuaikan dengan kondisi lingkungan maupun bahan makanan yang tersedia.

Laporan : Mustakim Ali_Jayapura

Di sudut timur Jayapura, tepatnya di kawasan Koya Timur, berdiri sebuah lingkungan pendidikan yang dari luar tampak seperti pemukiman warga biasa. Tak ada pagar megah, tak ada gerbang besar dengan cat mengkilap. Hanya dinding-dinding tanpa plesteran dan terlihat mulai kusam. Bangunan-bangunan sederhana yang nampak jelas belum rampugn ini menjadi saksi bisu kisah hidup dari para santri.

Itulah Pondok Pesantren Al Masthuri, sebuah pondok yang seperti ditinggalkan begitu saja namun menampung puluhan santri dari berbagai daerah. Menjelang sore, suasana pondok terasa hening. Beberapa santri berjalan perlahan menuju asrama, sebagian lainnya duduk di beranda kelas yang catnya telah memudar.

Tembok bangunan tampak mulai miring dimakan usia. Atap seng berkarat dan rapuh, sementara dinding ruang belajar menyimpan jejak waktu yang tak lagi bisa disembunyikan. Di bawah naungan Yayasan Pendidikan Nusantara Intim (YAPNI) yang berdiri sejak 1993, dua jenjang pendidikan tumbuh dan berjuang di tempat ini: Madrasah Tsanawiyah Koya Timur dan Madrasah Aliyah Yapni Jayapura.

Lebih dari tiga dekade, yayasan ini telah melahirkan ratusan bahkan ribuan generasi di Kota Jayapura. Namun usia panjang itu tak berbanding lurus dengan perkembangan infrastruktur. Dari total ruang yang tersedia, Madrasah Tsanawiyah hanya menggunakan tiga ruang kelas, sementara Madrasah Aliyah menempati satu ruang dari tiga ruang yang ada. Ruang-ruang itu dipakai bergantian, menyesuaikan jadwal dan jumlah siswa.

Total siswa saat ini mencapai 85 orang. Sebanyak 50 siswa di tingkat MTs dan 35 siswa di tingkat MA. Dari jumlah tersebut, 45 siswa tinggal menetap di asrama pondok. Mereka hidup bersama tiga guru pendamping yang tak hanya mengajar, tetapi juga menjadi orang tua kedua. Pengurus pondok, Ustaz Andi Hakim, menuturkan bahwa tantangan terberat yang baru saja mereka lalui adalah kehabisan stok beras selama dua minggu.

Page: 1 2

Juna Cepos

Recent Posts

Bupati Gusbager Instruksikan Pencairan THR dan TPP Pekan Ini

Terkait dengan THR, Pemerintah Kabupaten Keerom telah menyiapkan dana yang cukup besar, yakni mencapai Rp18…

3 minutes ago

Bupati Piter Gusbager Launching Safari Ramadhan dan Alokasikan 2 Miliar

Sebagai wujud nyata kepedulian pemerintah, Bupati mengumumkan total anggaran sebesar Rp 2 miliar yang dialokasikan…

1 hour ago

Menjejak di Debi, Tahun 1900 an Ondoafi Ikut Menerima Injil

Pulau kecil ini menjadi saksi awal masuknya Injil di wilayah Tabi—yang meliputi Jayapura, Sarmi, dan…

2 hours ago

Ada Ledakan Saat 22 Rumah Prajurit Terbakar

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, insiden ini menyebabkan kerugian material yang diperkirakan cukup besar karena…

3 hours ago

Pergantian Pemimpin Iran Tak Sesuai Harapan Trump, Konflik Diprediksi Rumit

Pemerintah Teheran kemudian mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Ketidaksenangan Trump mencerminkan harapan Washington…

4 hours ago

Sikapi Situasi di Timur Tengah, Indonesia Siapkan Skenario Terburuk

Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan, Presiden Prabowo telah memitigasi berbagai…

5 hours ago