Categories: FEATURES

Dari Seks Sesama Jenis hingga Pencabulan Anak oleh Orang Tua Kandung

Data ini bukan sekadar angka. Di balik setiap laporan, ada anak yang kehilangan rasa aman, masa depan, dan kepercayaan. “Pers, pemerintah daerah, tokoh agama, pendidik, dan terutama orang tua memiliki peran krusial untuk tidak menormalisasi kekerasan dalam bentuk apa pun, ” ujar Bety Ke Cepos, Selasa (3/2). Katanya, melindungi anak bukan hanya kewajiban negara, tetapi tanggung jawab moral seluruh masyarakat.

“Karena ketika satu anak disakiti dan dibiarkan, sesungguhnya kita sedang membiarkan masa depan ikut terluka,” tutupnya. Dijelaskan bahwa trauma yang terjadi pada korban kekerasan seksual memiliki dampak yang buruk. Hal ini akan terus membuat korban dihantui kejadian kelam yang menyedihkan, menakutkan atau bahkan mengancam keamanan siapa saja.

Efek traumatis dari kontak seksual yang tidak diinginkan memiliki efek jangka panjang bagi korbannya. Terdapat berbagai macam reaksi yang dapat memengaruhi korban. Akibat dari kekerasan seksual termasuk pemerkosaan dapat mencakup banyak hal seperti trauma fisik, emosional, dan psikologis.

Kekerasan seksual dapat dialami oleh siapa saja dan kapan saja. Oleh karenanya, kita harus selalu waspada dalam setiap situasi dan kondisi. Mempelajari cara menangani trauma yang terjadi pada korban kekerasan seksual dapat membantu kita menemukan perawatan terbaik untuk memulai proses penyembuhan.

Untuk para korban disarankan melakukan terapi dengan profesional. Perasaan cemas, bingung, merasa bersalah, dan putus asa setelah terjadinya kejadian traumatis biasanya akan mulai perlahan memudar dalam jangka waktu yang relatif cepat. Namun, jika reaksi stres traumatis timbul kembali dengan begitu kuat dan terus-menerus sehingga menghalangi aktivitas dapat meminta bantuan dari profesional kesehatan mental.

Terdapat beberapa tanda dari stres traumatis seperti kondisi tidak kunjung baik setelah enam minggu kejadian, mengalami kesulitan untuk beraktivitas seperti biasanya, mengalami kenangan menakutkan, mimpi buruk, atau kilas balik, dan mengalami pikiran atau perasaan untuk bunuh diri.

Kedua, korban harus berani terbuka dengan orang terdekat. Mulai melakukan identifikasi teman atau anggota keluarga untuk mendapatkan dukungan. Jika merasa sudah siap untuk mendiskusikan peristiwa traumatis, bisa langsung berbicara dengan mereka tentang pengalaman dan perasaan yang dirasakan.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Recent Posts

Pimpinan OPD Wajib  Kawal Kehadiran ASN di Upacara HUT RI

  Menindaklanjuti arahan Wali Kota Jayapura, Dr. Abisai Rollo, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Daerah (Sekda)…

3 days ago

Diduga Jadi Pengedar Ganja, Dua Pemuda Dibekuk  

Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Jayapura Kota menangkap dua pemuda berinisial J.W (18) M.P (18)…

3 days ago

Ribuan Personel Siap Amankan HUT RI di Papua

   Ribuan personel tersebut terdiri dari unsur TNI, Polri, serta aparatur Pemerintah Daerah (Pemda) tingkat…

3 days ago

Jhon Tabo: Pembangunan Kantor Gubernur Papeg Kewenangan Pusat

Gubernur Papua Pegunungan Dr. (HC) Jhon Tabo, SE, M.B.A menyatakan progres pembangunan kantor Gubernur Papua…

3 days ago

Puncak HUT RI Dipusatkan Di Lapangan Trisila Hamadi

  Asep mengatakan, dalam pelaksanaan upacara tersebut, seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil…

3 days ago

Merasa Belum Nyaman, Nakes Belum Kembali ke Puskesmas Rimba Jaya

Kepala Puskesmas Rimba Jaya, Iriani Winoto, mengatakan keputusan untuk belum kembali ke gedung utama puskesmas…

3 days ago