Categories: FEATURES

Jika Ada yang Tak Mampu Beli Kue Lebaran, Komunitas yang Bergerak Membantu

Kini, komunitas ini terdiri dari sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di sekitar Angkasa, namun jaringannya meluas hingga ke Kabupaten Keerom, mencapai hampir 100 KK. Mereka memiliki berbagai profesi, mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai swasta, hingga mama-mama Papua yang gigih berjualan di pasar. Bagi Muslim Wamena, mereka tidak meninggalkan identitas kesukuan. Akulturasi budaya terlihat jelas dalam tradisi Bakar Batu.

Jika di pegunungan tradisi ini identik dengan pesta adat yang menggunakan hewan babi dan berbagai jenis umbi-umbian, di Angkasa, Bakar Batu bertransformasi menjadi sarana dakwah dan silaturahmi, terutama menjelang Ramadan atau saat Idulfitri. “Tahun lalu kami buat Open House dengan Bakar Batu. Semua keluarga besar berkumpul di satu titik ini (mushola) bukan di rumah masing-masing.

Kami sediakan kue-kue dan makanan di meja panjang,” ujar Imron. Di balik perayaan itu, ada pesan kemandirian yang kuat. Imron Asso memiliki prinsip teguh. Agama bukan untuk diperdagangkan. Ia mengharamkan budaya menyebar proposal bantuan ke sana-kemari. “Tanggung jawab kita adalah membesarkan Islam dan agama, bukan hidup dari agama. Saya ingin orang luar datang karena peduli dan tertarik melihat kegiatan kami, bukan karena kami mengemis. Itu model kuno,” tegasnya.

Solidaritas ini juga menjadi jaring pengaman ekonomi. Di tengah situasi ekonomi yang sulit, komunitas ini bergerak secara kolektif. Jika ada keluarga yang tak mampu membeli kue Lebaran, komunitas akan menopang. Tak ada yang merasa memiliki secara pribadi, semua adalah milik bersama.

Imron juga menyebutkan jika mereka memiliki kerinduan untuk kembali melaksanakan Open House dengan cara bakar batu seperti tahun-tahun lalu. “Kita rencananya bikin bakar batu seperti tahun lalu, tapi nanti kita diskusikan dengan jemaah dulu. Karena sekarang situasinya agak sulit,” ucapnya. Kehidupan di Kampung Muslim Wamena Angkasa tergolong sangat kondusif. Meski berada di tengah keberagaman Kota Jayapura, mereka mengaku jarang mendapat intimidasi dari luar.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Kodam Sebut Kevin Tewas Dalam Laka Tunggal

   Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, mengatakan penyelidikan dilakukan bersama Polres Jayapura…

2 days ago

Kuasai Abepura, Agenda Demo Harus Terkendali

Kesiapan tersebut disampaikan langsung oleh Kapolsek Abepura, Kompol Paulus Hilapok. Ia mengonfirmasi bahwa pihak kepolisian…

2 days ago

Hotel Boleh Sepi Sekarang, Tapi Jurusan Perhotelan Paling Banyak Diincar Siswa

   Ia menjelaskan, pembelajaran perhotelan di SNK Pariwisata Papua tidak berhenti di ruang kelas. Siswa…

2 days ago

Yulianto: Banyak Masalah Tanah Belum Tuntas

​Ia mencontohkan salah satu bentuk ketidakberesan pelayanan pertanahan yang tengah ia tangani, seperti permohonan pengembalian…

2 days ago

Hanya Bermodalkan Rp 500 Ribu, Makanan Basi Terdeteksi Lima Detik.

Dengan modal sekitar Rp 500 ribu, dua siswa kelas sembilan tersebut merancang alat yang dapat…

2 days ago

Gara-gara Tanah Dulang, Seorang Pria Tewas Dikeroyok 

   Prarekonstruksi memperagakan rangkaian dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Proses tersebut turut disaksikan…

2 days ago