Categories: FEATURES

Penjualan Tahun ini 50% Stok Tahun Lalu, Itu pun Masih Tak Laku

Jual Beli Kembang Api dan Petasan yang Tak Lagi “Menyala”

Momen pergantian tahun, dimanfatkan pedagang musiman seperti kembang api dan petasan untuk mengeruk keuntungan, namun tahun berganti tahun keuntungan yang dirasakan tak menggiurkan lagi?

Laporan : Yohana JAYAPURA

Malam pergantian tahun, merupakan momen yang paling dinanti-nantikan khususnya bagi para penjual kembang api dan petasan.

Karena malam pergantian tahun, merupakan bagian puncak perayaan tahun baru dengan berbagai kemeriahan bunyi-bunyian petasan.

Namun kali ini berbeda, dimana permintaan petasan justru tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.  Para penjual petasan mengaku daya beli masyarakat justru lebih menurun di tahun ini, karena sejak tanggal 25 Desember 2024, tidak terlihat adanya permintaan petasan.

Justru jika dilihat pada tahun sebelumnya permintaan petasan selalu terjadi sejak tanggal 20-an hingga 31 Desember.

Tidak hanya daya beli masyarakat yang menurun, sepertinya masyarakat lebih selektif dalam berbelanja. Kita ketahui bahwa pasca pandemi keadaan ekonomi Indonesia belum stabil, perputaran ekonomi belum sepenuhnya membaik.

Malah banyak masyarakat yang lebih berhati-hati menyiapkan keuangannya, bukan terkait keterbatasan barang, melainkan ekonomi tidak berjalan seperti semula.

Seperti yang diungkapkan Siti Martini, permintaan petasan sangat turun bahkan jauh menurun dari biasanya.

“Harusnya kami bisa menjual lebih banyak tetapi karena kondisi demikian jadi kami juga hanya menyiapkan petasan sedikit saja, dan jika tidak habis terjual, kami akan simpan untuk dijual kembali, ” Katanya kepada Cenderawasih Pos, Selasa (31/112) kemarin.

Menurutnya, untuk petasan yang dijual saat ini juga 50 persen stok tahun lalu,  meski disimpan kondisi petasan dipastikan tidak rusak, untuk penyimpanan harus diperkirakan dengan baik, seperti kelembaban udara, penyimpanan tertutup dan rapi.

“Jadi jika petasan kami tidak habis dijual, akan kami simpan, ketimbang beli baru biaya akan lebih banyak, baik itu biaya perizinan, kontainer dan sebagainya, ” jelasnya.

Tidak hanya itu, kondisi serupa juga dialami Ali penjual petasan lainnya di Pasar Hamadi, menjelaskan bahwa permintaan petasan turun 50 persen dari tahun sebelumnya.

“Kami tidak tahu pasti apakah banyak masyarakat yang liburan diluar Kota Jayapura atau memang daya beli masyarakat saja yang menurun,” jelasnya.

Selain itu, penjualan petasan juga lebih terlambat dari biasanya, biasanya tanggal belasan sudah jualan, ini hingga tanggal 20 baru mulai jualan. (*/wen)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tiga Penyakit Mematikan Ancam Warga Papua

Akademi Teknologi Laboratorium Medik Papua menyoroti tingginya ancaman tiga penyakit berbahaya di Papua, yakni malaria,…

2 hours ago

Ratusan Bangunan dan Kendaraan Terbakar

   Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, S.IK saat memimpin pendataan kerugian material…

3 hours ago

17 Tersangka Diproses, 2 Lainnya Diselesaikan Lewat RJ

Selain menetapkan tersangka, aparat kepolisian juga masih merangkum sejumlah laporan polisi yang masuk pasca insiden…

4 hours ago

TNI Bantah Terlibat Ledakan di Halaman Gereja

Peristiwa ini langsung memicu sorotan tajam lantaran terjadi di lingkungan tempat ibadah, sebuah ruang aman…

5 hours ago

Bupati Intan Jaya Minta TNI/Polri dan TPNPB Tidak Korbankan Warga Sipil

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menegaskan gereja dan masyarakat sipil tidak boleh menjadi sasaran dalam…

6 hours ago

Bukan Sekedar Ancaman Fisik Tapi Juga Terhadap Simbol dan Martabat Lembaga Keagamaan

Namun bagi jemaat GKI Pengharapan, persoalan itu jauh lebih dalam daripada sekadar soal tanah dan…

7 hours ago