

Perwakilan Disdik Kampar mengukur lahan yang akan dibangun gedung baru untuk peserta kelas jauh UPT SDN 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Kamis (24/9/2026). Tampak gedung lama berdiri dengan dinding tripleks.(DISDIKPORA KAMPAR UNTUK RIAU POS)
Melihat Perjuangan Rohmawati, Sosok Guru yang Mencerdaskan Anak Bangsa di Pelosok Kampar
Dari balik dinding tripleks yang mulai rapuh dan melapuk dimakan usia, suara lantang Rohmawati tetap menggema setiap pagi. Dinding tipis itu menjadi batas antara ruang belajar sederhana dengan dunia luar yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Laporan: Kamaruddin_Bangkinang
DI dalam dinding tripleks itu, anak-anak duduk mengikuti pelajaran, sementara di hadapan mereka berdiri seorang perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya untuk mengajarkan ilmu. Di ruang kelas jauh UPT SDN 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar itu, Rohmawati tidak sekadar mengajarkan abjad dan angka.
Selama lebih dari dua dekade, ia memilih bertahan dan ikut merajut masa depan anak-anak di salah satu sudut daerah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan fasilitas pendidikan. Di sana, Rohmawati sudah 22 tahun mendedikasikan hidupnya sebagai guru honorer. Sejak sekolah rintisan itu berdiri pada 2004, ia selalu berada di garis terdepan, menemani anak-anak di wilayah tersebut mengenal dunia pendidikan.
Kala itu, perjalanan menuju sekolah bukanlah perkara mudah. Akses jalan masih sulit dilalui, terlebih ketika hujan turun dan jalan berubah menjadi kubangan lumpur. Kondisi ekonomi masyarakat di sekitar sekolah pun belum sepenuhnya sejahtera.
Namun, semua keterbatasan tersebut tidak pernah membuat Rohmawati mengurungkan niatnya untuk mengajar. Ia tetap datang ke sekolah, berdiri di depan kelas dan menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Insentif yang diterima seadanya tidak menjadi alasan baginya untuk meninggalkan anak-anak yang membutuhkan pendidikan.
Waktu terus berjalan. 22 tahun berlalu, tetapi kondisi sekolah tempat Rohmawati mengabdikan diri masih jauh dari kata ideal. Bangunan sekolah yang berdinding tripleks seadanya menjadi saksi panjang perjalanan pendidikan di kawasan tersebut. Dinding tipis itu harus menghadapi panas matahari yang menyengat. Ketika hujan turun disertai angin kencang, para guru dan siswa juga harus berhadapan dengan rembesan air yang masuk ke ruang belajar.
Akibat kecelakaan tersebut, satu dari sembilan orang Anak Buah Kapal (ABK) yang berada di atas…
Poster yang beredar luas di media sosial tersebut sempat memicu keresahan warga Timika. Narasi di…
Menurut Pangdam, jika tidak ada perubahan, peresmian akan dilakukan pada 5 Oktober mendatang. Khusus…
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Papua menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penegakan Peraturan…
Langkah yang dikemas melalui pendekatan humanis ini menyasar dua lembaga pendidikan, yakni SD Pigapu dengan…
Kasus yang turut menyeret nama mantan Sekretaris DPR Papua berinisial JJ tersebut kini memasuki tahap…