

Kakek Ushar Hamid, salah satu pemudik asal Socah, Bangkalan, saat menunggu keberangkatan kapal tujuan Makassar di Pelabuhan Tanjung Perak, Senin (16/3/2026). (Novia Herawati/JawaPos.com)
Kakek Ushar Rela Berlayar 32 Jam Sendirian Demi Pulang ke Bulukumba Untuk Berkumpul Keluarga
Usianya sudah tergolong senior, 66 tahun. Tapi itu tidak menghalangi Ushar Hamid untuk merasakan keriuhan mudik Lebaran. Iapun rela meski harus menghabiskan waktu puluhan jam dalam perjalanan.
Laporan: Novia Herawati
Ushar tetap tampak bersemangat pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Untuk mudik lebaran ke ujung kaki Celebes, Ushar tidak lewat jalur udara. Ia memilih jalur yang ditempuh para leluhurnya, yakni jalur laut. Di ruang tunggu penumpang Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kakek Ushar duduk tenang di bangku besi berwarna biru. Ia mengenakan kemeja warna coklat susu yang digulung setengah, serta peci bermotif khas.
Di sampingnya tersandar dua tas besar dan satu tas selempang hitam. Barang bawaan itu diletakkan rapi di dekat kakinya, seolah selalu siap dibawa ketika panggilan keberangkatan kapal sudah disiarkan. Wajahnya tampak tenang namun penuh perhatian. Sesekali pandangannya berkeliling, menoleh ke kanan dan ke kiri, mengikuti lalu lalang penumpang yang datang dan pergi di ruang tunggu penumpang.
“Lagi nunggu kapal, mau mudik ke Makassar, silaturahmi,” ucap Ushar kepada JawaPos.com, Senin (16/3).
Tubuhnya masih bugar, namun suaranya amat lirih. Penulis pun harus mendekat agar bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Mengadu Nasib di Madura, Bertemu Jodoh di Tanah Rantau. Ushar bercerita bahwa dirinya mulai merantau ke Pulau Madura sejak tahun 1988, saat usianya masih muda. Kala itu, ia datang dengan harapan sederhana: mencari pekerjaan dan memperbaiki nasib.
Di pulau garam, Ushar bekerja di sebuah perusahaan swasta. Siapa sangka, niat hati ingin mengadu nasib, Ushar justru dipertemukan dengan pujaan hatinya di tanah rantau. Dari perkenalan sederhana, keduanya kemudian menikah dan membangun rumah tangga bersama.Mereka kini hidup sederhana di Kecamatan Socah, Bangkalan, sambil membesarkan ketiga anak mereka.
“Anak saya tiga, yang paling sulung usianya 32 tahun, kemudian anak kedua dan ketiga itu kembar, usianya 27 tahun. Anak-anak sudah pada berkeluarga,” lanjut kakek berkacamata tebal itu.
Page: 1 2
Setelah liburan panjang dan penerimaan murid baru, aktifitas anak-anak sekolah kembali ramai. Arus lalu lintas…
Menurut Abisai, perjudian bukan sekadar aktivitas yang melanggar hukum, tetapi juga menjadi salah satu…
Korban diketahui bernama Jhon S. Wanimbo (26), warga Jalan Buper Waena, Distrik Heram. Korban menghembuskan…
Menurut Anthon, langkah itu penting agar tidak muncul korban-korban sipil lainnya akibat tuduhan sepihak yang…
Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, menegaskan Pemerintah Kota Jayapura akan mengoptimalkan pelaksanaan sejumlah peraturan…
Kasubdit I Ditresiber Polda Papua, Kompol I Wayan Laba, mengatakan kejahatan siber merupakan segala bentuk…