Categories: FEATURES

18 Tahun Pengabdian Neisen Monim di Pelosok Papua yang Terlupakan

Untuk mencapai kampung-kampung ini, Neisen harus berjuang melawan medan. Tak ada jalan permanen, hanya jalan setapak yang memaksa langkahnya menyusuri pinggiran sungai, menembus hutan selama berjam-jam.

“Saya hanya sendiri membawahi beberapa kampung. Sangat sulit semuanya, berjalan kaki berjam-jam untuk pelayanan, biasanya bermalam dalam perjalanan,” ujarnya lirih.

Apa yang membuat Neisen bertahan, bahkan ketika gajinya tak berbeda dengan rekan-rekannya di perkotaan?

“Hati saya ingin melayani masyarakat tertinggal yang jarang diperhatikan,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca. “Semua baik, tujuan kita mau kerja benar, bukan kerja baik,” sambungnya lagi.

Bagi Neisen, ilmu yang ia dapatkan di bangku kuliah jauh lebih bermanfaat di pelosok ini. Dari malaria, ISPA, diare, infeksi kulit, TBC, hingga berbagai penyakit lainnya, semua ia tangani. Kegiatan pengobatan gratis, penyuluhan, bahkan program nasional seperti penanganan stunting dan imunisasi, semua ia jalankan dengan tekun. Baginya, mengobati masyarakat di pelosok terasa lebih “jujur dan tulus.”

Bahkan pria kelahiran Putali Kabupaten Jayapura, 26 April 1982 itu menjadi satu-satunya Nakes yang melayani persalinan mama-mama Papua. Tak hanya mengobati fisik, Neisen juga telah menyentuh hati masyarakat Semografi. Hubungan yang terjalin erat ini tak bisa dipisahkan.

Bahkan, pasien dari negara tetangga, Papua Nugini, pun kerap datang mencari pertolongan Neisen. Demi kemanusiaan, tangannya yang sudah terlatih tak pernah menolak.
Hidup selama 18 tahun di pelosok Papua berarti berdamai dengan kesunyian dan keterbatasan. Jauh dari keluarga, Neisen terkadang baru bisa pulang ke rumah setelah enam bulan, bahkan setahun lamanya, sebelum akses jalan sedikit membaik.

Kini, dalam 5 tahun terakhir ia bisa turun setiap bulan hanya sekadar mengantar laporan dan mengambil obat di Puskesmas Unrub, Diatrik Web. Puskesmas terdekat dari Kampung Semografi. Perjalanan mengambil obat ke Puskesmas Ubrub pun penuh perjuangan, tak jarang motornya rusak di tengah jalan berlumpur dan harus menunggu tumpangan berjam-jam.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Laka Tunggal Minibus Karena Pengemudi Ngebut

Sebuah minibus Dutro yang mengalami kecelakaan pada Jumat (15/5) lalu diduga karena kecepatan tinggi saat…

9 hours ago

Pemkot Diminta Bantu Fasilitasi Penyelesaian Masalah di Perum Organda

Pemerintah Kota Jayapura dalam hal ini Wali Kota Jayapura diminta untuk membantu memfasilitasi penyelesaian masalah…

9 hours ago

Redam Konflik di Wamena, Bupati Tolikara : Jangan Tumpahkan Darah di Honai Kita Sendiri!

Dengan suara penuh empati dan ketegasan, ia mengingatkan bahwa Wamena bukan hanya sebuah kota, tetapi…

10 hours ago

Garnisun Sisir Kota Jayapura, Petugas Amankan 15 Botol Miras

Dalam operasi tersebut, petugas berhasil mengamankan sedikitnya 15 botol minuman keras berbagai merek yang ditemukan…

10 hours ago

Dampak Konflik, Banyak Warga Mengungsi

Banyaknya pengungsi yang masuk ke tempat tersebut membuat Pemprov Papua Pegunungan sejak semalam berupaya untuk…

11 hours ago

Pemkot Dorong Percepatan KDMP

Pemerintah Kota Jayapura terus mendorong percepatan pembentukan dan operasionalisasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian…

11 hours ago