Categories: BERITA UTAMA

Tak Terjaga, Bukit Srobu Diobok-obok

CEK DATA: Dua peneliti di Balai Arkeologi Papua tengah mengecek data di ruang arkeolog di Waena, Senin (24/6) kemarin. Balai Arkeologi mencatat ada banyak lokasi sejarah dan pra sejarah yang tak terkelola baik hingga terancam rusak bahkan punah.  (Insert) Drs Gusti Made Sudarmika ( FOTO : Gamel/Cepos )

JAYAPURA-Bukit Srobu yang berada di Abe Pantai Distrik Abepura terancam rusak. Bukit yang disinyalir menjadi titik lahirnya peradaban masyarakat di Tabi ini mulai sering dimasuki oleh manusia. Dampaknya jelas, satu persatu benda peninggalan pra sejarah ini mulai diobok-obok dan rusak. Ada kelompok masyarakat yang suka naik ke Srobu dan mencari kerang. Padahal kerang yang ada di lokasi tersebut merupakan peninggalan peradaban. 

 “Harusnya bisa lebih terjaga. Kalau terus terbiar kami khawatir ada banyak yang rusak. Saat ini masyarakat masih sering naik ke atas dan mengorek-ngorek tempat di situ,” kata Kepala Balai Arkeologi Papua, Drs. Gusti Made Sudarmika di ruang kerjanya, Senin (24/6). 

Ia melihat lokasi yang berada di ketinggian tersebut tak terpagar dan belum terkelola dengan baik sehingga masyarakat dengan mudah naik dan mengutak atik benda-benda yang sedang diteliti. Jadi kata Made ancaman bukit Srobu rusak, punah bahkan hilang sangat memungkinkan bila dilihat dari kondisi yang ada saat ini. 

 “Kami berharap ada upaya lebih dari pemerintah. Kita tak bisa membiarkan situs sejarah ini rusak begitu saja karena ada sejarah di situ dan ketika sejarah ini dilupakan maka dengan sendirinya kita akan lupa akan jati diri,” bebernya. 

Pihak Balai Arkeolog sendiri tengah melakukan penelitian di sejumlah titik mulai dari Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Wamena,  Raja Ampat dan beberapa tempat di Papua Barat. “Untuk Sentani kami  sedang meneliti soal gerabah dan awal hinuan manusia yang tinggal di pinggiran danau dan sekitarnya. Ini termasuk situs meagalitikum, Tutari,” bebernya. 

Kata Made beberapa lokasi pra sejarah ini usianya ada yang 2500 hingga 3000 tahun lalu sehingga sayang bila tak terjaga dan akhirnya rusak. “Bila ini digarap untuk destinasi wisata tentu sangat menarik. Kami pernah mengajukan  sepaket dengan Festival Danau Sentani khusus Tutari tapi belum terlaksana hingga kini,” kata Made. (ade/nat)

newsportal

Recent Posts

Nasib RD di Persipura Belum Jelas

Kursi pelatih kepala Persipura Jayapura hingga saat ini belum jelas, alias masih lowong. Tim berjuluk…

5 hours ago

Gubernur Singgung Soal Benalu yang Ambil Keuntungan

Fakhiri menyatakan mengetahui soal "permainan lama" tersebut. “Barang itu saya tahu, gubernur-gubernur terdahulu kan membuat…

6 hours ago

MRP Minta Kewenangan Pengelolaan SDA Jangan Semua Oleh Pusat

Ketua MRP, Nerlince Wamuar, mengatakan rapat tersebut merupakan tindak lanjut amanat Pasal 20 ayat (1)…

7 hours ago

Rumah Dibangun Tahun 1921 Jadi Saksi Bisu Sebelum Indonesia Merdeka

PAPAN demi papan dilepas perlahan. Genting-genting tua diturunkan dari atap yang mulai rapuh. Beberapa warga…

8 hours ago

Kapolda: BKO Mabes Standby hingga Juli

Ia menjelaskan, keberadaan personel BKO masih diperlukan untuk mendukung upaya pemulihan keamanan pasca konflik yang…

9 hours ago

Gerayangi Murid, Oknum Guru Ngaji Diamankan Polisi

Kapolres Merauke AKBP Leonardo Yoga melalui Ps Kasi Humas Ipda Andre MSB dikonfirmasi membenarkan laporan…

10 hours ago