Categories: BERITA UTAMA

Komnas HAM Papua Minta Pemda Turut Memberi Klarifikasi

JAYAPURA- Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai, rentetan kontak tembak yang terjadi di wilayah Pegunungan Tengah Papua memiliki pola yang hampir mirip. Untuk itu, Komnas HAM meminta adanya keaktifan dari Pemda setempat.
Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Ramandey berharap dan menaruh kepercayaan kepada otoritas sipil yang tempatnya sering terjadi konflik terutama Kabupaten Puncak untuk turut membantu memberi klarifikasi tentang siapa korban dan keterlibatan mereka di tempat kejadian seperti apa.
“Selama ini hampir seluruh kejadian terlepas dari Nduga, kita berharap Pemdanya harus mengambil bagian untuk memberi klarifikasi. Jangan hanya diam dan membiarkan kepada TNI-Polri, karena pemda punya kewenangan politik,” tegas Frits kepada Cenderawasih Pos, Senin (23/11).
Terkait dengan pelaku penembakan dua pelajar yakni Atanius Murib (16) dan Manus Murib (16) di daerah Gome Utara, Kabupaten Puncak pada Jumat (20/11) lalu. Frits mengaku pihaknya mendapat informasi dari sumber media kemudian dikonversi menjadi pengaduan pro aktif.
Namun pihaknya belum bisa melakukan verifikasi soal posisi korban. Apakah dia sebagai anak sekolah, berapa umurnya dan sedang aktivitas apa saat kejadian tersebut. Yang ada saat ini hanya versi dari Kogabwilhan terkait dengan kejadian di Puncak dengan korbannya adalah sipil.
“Kasus ini kejadian yang berulang dengan pola yang hampir mirip. Kami akan memverifikasi korban ini siapa, status dia apa dan dia sedang melakukan apa saat kejadian sehingga itu menjadi informasi pembanding,” kata Frits.
Komnas HAM akan mencari sumber lain dari jaringan yang ada dan akan berkomunikasi dengan pemda setempat untuk minta informasi pembanding.
“Kasus ini masih terjadi kesimpang siuran soal korban. Termasuk dari OPM yang belum memberi klarifikasi. Biasanya dalam dua tahun terakhir kalau pelakunya OPM maka juru bicara mereka akan menyampaikan pernyataan dan akan bertanggung jawab. Namun hingga sekarang belum ada pernyataan seperti itu dari pihak OPM,” papar Frits.
Lanjut Frits, terkait pembentukan tim untuk mengungkap kasus ini. Pihaknya sedang berkoordinasi ke Jakarta dan melaporkan kondisi yang terjadi. Sebab, pembentukan tim dan dukungan harus berkoordinasi dengan Jakarta.
“Karena kasus ini diduga dilakukan oleh TNI, maka pimpinan TNI harus segera mengambil sikap dan mengumumkan posisi kejadian seperti apa,” tegas Frits. (fia/nat)

newsportal

Recent Posts

Sempat Tak Percaya Saat Disuruh Main Baki Sore

Bagi Kota Jayapura, keberhasilan Nelce bukan sekadar prestasi seorang pelajar. Ada nama sekolah, keluarga, Kota…

12 hours ago

Tiga Hari Lagi, Persipura Launching di Enam Kota

Ada yang berbeda dari launching Persipura kali ini. Untuk pertama kalinya, rangkaian launching akan digelar…

18 hours ago

Sensus Ekonomi Papua Terkendala Sinyal dan Keraguan Warga

   Plt. Kepala BPS Papua, Akhmad Jaelani, mengatakan karakteristik wilayah Papua membuat proses pendataan membutuhkan…

24 hours ago

Pemkot dan Bulog Salurkan 1.122 Ton Beras untuk 37.401 Penerima

Penyaluran bantuan pangan ini menyasar 37.401 penerima bantuan pangan yang tersebar di 25 kelurahan dan…

1 day ago

PAN Papua Panaskan Mesin Politik

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Papua bersama seluruh DPD PAN tingkat kabupaten/kota…

1 day ago

Terima SK, Ratusan ASN Diminta Bekerja Baik Melayani Masyarakat

   Status baru sebagai ASN membawa tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi kepada negara…

1 day ago