Categories: BERITA UTAMA

Jaring Aspirasi Para Korban Pelanggaran HAM Berat Tahun 2003 di Wamena

WAMENA – Tim Komnas HAM Pusat mulai mencari korban Pelanggaran Ham Berat tahun 2003 yang terjadi di Kabupaten Jayawijaya, hal ini dilakukan sesuai dengan Keppres nomor 17 tahun 2022, dimana untuk Provinsi Papua Lokusnya di Jayawijaya dan Untuk Papua Barat di Wasior Kabupaten Teluk Bintuni, guna mendapatkan Program pemulihan.

Ketua Tim Penyelesaian non yudisial Pelanggaran HAM berat Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnarki menyatakan pihaknya ke Wamena untuk menjaring aspirasi dari korban pelanggaran HAM berat yang terjadi di Wamena pada tahun 2003.

“Jadi hanya korban pelanggaran HAM Berat Tahun 2003 saja, hanya itu yang kami cari dan tidak ada yang lain-lain, mandat kami hanya korban pelanggaran HAM yang terjadi pada tahun itu dalam kasus pembongkaran gudang senjata di Kodim 1702/ Jayawijaya,” ungkapnya Rabu (9/11) kemarin

Kiki menjelaskan jika pihaknya hanya melakukan tugas non yudisial bukan untuk yudisial, tapi tidak menutup pintu untuk penyelesaian Yudisial dan selalu persilakan pendekatan yang dilakukan adalah kemanusiaan dengan mendekati para korban untuk melihat aspirasi korban itu seperti apa.

“Mungkin ada yang pernah terluka, atau disiksa dulunya itu ada kompensasinya berdasarkan Keppres Nomor nomor 17 tahun 2022,” jelasnya.

Kata Kiki, Dalam keppres ini ada 13 kasus di Indonesia, di Papua 1 kasus yakni di Wamena dan Papua Barat 1 yakni di Wasior sementara yang lainnya itu di luar Papua seperti Aceh, Jakarta, intinya tim ini akan menggali aspirasi korban pelanggaran HAM Berat yang ada di Kabupaten Jayawijaya seperti apa.

“Kita ingin berkoordinasi dengan korban dan mendengarkan aspirasnya lalu pemerintah penyediakan program pemulihan seperti rehabilitasi fisik, bantuan sosial, jaminan kesehatan, beasiswa dan mungkin juga lainnya yang diperlukan para korban,” katanya

Ia juga menambahkan laporan ini akan ditunggu Presiden pada 31 Desember mendatang maka pihaknya meminta bantuan dari pemerintah daerah komponen masyarakat seperti adat, gereja agar bisa melakukan kerjasama karena kepentingan korban HAM berat ini adalah kepentingan kemanusiaan.

“Jadi kita sama-sama gali apa yang menjadi aspirasi korban pelanggaran HAM yang ada di Wamena khususnya di tahun 2003 lalu, Saya kira kalau kita gotong-royong pasti sama-sama akan selesai,” tutupnya. (jo/wen)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: PAPUA

Recent Posts

MK Putuskan Sisa Kuota Internet Tak Lagi Hangus

Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan sebagian permohonan uji materi terhadap Pasal 28 ayat (1) dalam Pasal…

19 hours ago

Pasukan Tempur Disiapkan

​Ketiga korban tewas ditembak di Jalan Trans, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, pada Senin, 20 Juli…

19 hours ago

Jejak Buron Lapas Abepura Masih Gelap

"Kami memantau setiap isu yang beredar, termasuk kabar keberadaan mereka di Serui, Boven Digoel, maupun…

20 hours ago

Kapten Kapal Asal Merauke Ditembak Aparat PNG

Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Kabupaten Merauke Rekianus Samkakai, S.STP, MAP, saat ditemui menjelaskan, insiden itu…

20 hours ago

Penguatan Pendidikan Sejak Dini untuk Cegah Krisis Literasi

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Jayapura yang juga Bunda PAUD Kota Jayapura, Nerlince Wamuar Rollo,…

21 hours ago

Warga Resah, Jambretan Berkeliaran Sambil Tenteng Golok

Aksi nekat kedua pelaku digagalkan sebelum mereka sempat membawa kabur barang berharga milik korban. Warga…

21 hours ago