Categories: BERITA UTAMA

11 Nelayan  asal Merauke Kembali Berkumpul dengan Keluarga

MERAUKE–  Sebanyak 11 dari 13 nelayan asal Kabupaten Merauke akhirnya dapat berkumpul dengan keluarga mereka di Merauke setelah menjalani pidana di  PNG karena tertangkap melakukan pelanggaran batas wilayah dan penangkapan ikan secara ilegal tahun 2022 lalu.

Ke-11 nelayan tersebut  adalah untuk  KMN Arsyila 77 yakni  Laode Darsan, Riki Hemi Setiwan, Farid Sasole, Peli Puswarkor, Joni dan Ceno Jelafui.

Sementaran untuk KMN Baraka Faris 21 yakni  Joni, Amin Nurul Mustofa, Nuriadi, Beni Wasel dan Fernando Tuwok. Mereka tiba dengan pesawat Lion Air dari PLBN Skouw Jayapura, Jumat (2/6) kemarin sekitar pukul 08.30 WIT. Ke-11 nelayan tersebut dijemput langsung Kepala Pengelolaan Perbatasan Kabuaten Merauke Rekianus Samkakai, S.STP, MAP, di PLBN Skouw Jayapura, selanjutnya menuju Merauke.

Setelah tiba di  Merauke, kemudian 11 nelayan ini diantar menuju  Gedung Negara untuk bertemu dengan Pj Gubernur Papua Selatan. Diketahui, bahwa  para  ke-11 nelayan yang bebas tersebut difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Ppaua Selatan, dimana Pj Gubernur memberikan bantuan biaya pemulangan. Setelah  pertemuan dengan Pj Gubernur Papua Selatan tersebut, selanjutnya ke-11  nelayan tersebut diserahkan ke keluarga mereka.

Rekianus Samkakai menjelaskan bahwa dari 13 orang nelayan yang ditangkap otoritas PNG di tahun 2022 lalu, 2 orang yakni Nahkoda  KMN Arsyila 77 bernama Sarif Kasiman dan Nahkoda KMN Baraka Faris 21 bernama Rohman masih menjalani pidana di PNG. Karena hukumannya kedua nahkoda kapal tersebut lebih berat dari pada ke-11 nelayan.

Pada  pemulangan itu, Ketua Perhimpunan  Nelayan Indonesia Kabupaten Merauke Taufik Latarissa, juga melakukan penjemputan di Bandara Mopah Merauke. Diapun berharap, kejadian yang menimpa nelayan ini merupakan yang terakhir kalinya.

‘’Pertama, alhamdulillah, para nelayan kita bisa kembali ke Indonesia dalam kondisi sehat. Dan dalam proses pemulangan ini  beberapa kendala dialami. Tapi alhamdulillah mereka  bisa sampai hari ini dengan selamat dan ini harapan kami dari pemerintah dan HNRI,’’ jelasnya.

Taufik Latarissa berharap, perlu sosialisasi yang lebih masif lagi kepada para nelayan untuk tidak melanggar dengan memasuki wilayah teritorial negara lain menangkap ikan.’’Kita berharap, ada sosialisasi agar masalah  seperti ini tidak diulangi lagi oleh para nelayan kita. Karena pelanggaran batas wilayah merupakan hal yang sangat sensitif,” terangnya.

Diketahui, bahwa  dalam penangkapan  ini, Nahkoda  KMN Calvin 02 bernama Sugeng tewas ditembak oleh tentara PNG saat kapal yang dinahkodai korban mencoba melarikan diri kembali ke Indonesia. Sedangkan KMN Arsyila 77 dan KMN Baraka Faris 21 berhasil ditangkap tentara PNG dalam operasi tersebut. (ulo/wen)

newsportal

Share
Published by
newsportal
Tags: MERAUKE

Recent Posts

Isu Penghentian Rekrutmen CPNS Diklarifikasi

Menurutnya, kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal daerah, mengingat beban belanja…

9 hours ago

Ikan Sapu-sapu “Serang” Danau Sentani?

Kabar terkait keberadaan ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus yang ditemukan di Danau Sentani sempat membuat…

10 hours ago

Papua Krisis Tenaga Laboratorium Medik

Ia merinci, kebutuhan tenaga ATLM di masing-masing wilayah cukup tinggi. Papua Pegunungan menjadi daerah dengan…

11 hours ago

Bertahun-tahun Tugas di Nusakambangan, Sempat Tegang Saat Tiba di Lapas Abepura

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tak lagi dipandang sebagai tempat akhir dari perjalanan hidup seseorang, melainkan sebuah…

12 hours ago

Wali Kota Kembali Tegaskan Larangan Pungli di Sekolah

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menegaskan komitmennya dalam memberantas praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan…

13 hours ago

Satgas Mafia BBM Selidiki Kasus Modifikasi Tangki BBM

Kasubdit IV Tipidter Polda Papua, Kompol Agus Ferinando Pombos, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir…

14 hours ago