Categories: BERITA UTAMA

Filososif dan Budaya Orang Papua

Terkait Obor Api PON Berbentuk Tifa

JAYAPURA-Obor Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XX tahun 2021 memakai obor berbentuk tifa, alat perkusi tradisional orang Papua. Alat musik Tifa terdapat pada kebudayaan masyarakat Papua dari wilayah pesisir, daratan rendah hingga daerah pegunungan di tanah Papua.

Bentuk yang unik dari obor ini  hasil desain dari sosok bernama Reza Pamungkas. “Desain awal saya buat dengan model sederhana sebanyak lima model, hingga akhirnya pilihan jatuh ke bentuk Tifa,”kata Reza di Jayapura, Kamis (30/9).

Dipilihnya obor model Tifa karena alat perkusi tradisional ini sudah mencangkup filosofi dan budaya orang Papua. Pada Obor tersebut terdapat berbagai ukiran motif asli Papua, namun banyaknya kekayaan budaya di tanah Papua sehingga tidak semua terakomodir dalam obor berbentuk tifa tersebut.

Reza Pamungkas mengaku desain model Tifa ini melalui pengkajian mendalam terutama dengan melibatkan antropolog dan curator muda dari museum Universitas Cenderawasih Enrico Kondologit. Ada tiga makna penting di dalam obor berbentuk Tifa ini, terutama menyangkut kehidupan sehari hari orang Papua dan bagaimana menyatukan perbedaan dengan mendengar bunyi tabuhan Tifa yang memanggil orang untuk berkumpul merayakan pesta kemenangan maupun perdamaian.

Jadi lanjut Reza Pamungkas, tifa sebenarnya bukan sekadar alat pukul atau perkusi semata tetapi ada menyangkut semua filosofi dan kehidupan masyarakat yang ditempelkan di obor tifa. “Ada ornamen alam dan budaya mulai dari motif ular, alat tusuk hidung dari suku Asmat, semua tertera di Tifa obor PON Papua,”ujarnya.

Api obor pun bersumber dari api abadi di Klamono – Sorong, tempat pertama kali dilakukan pengeboran minyak dan gas alam oleh pemerintah Belanda di zaman Nederlands Nieuw Guinea.

“Saya sangat terharu ketika kami mengambil api dari Klamono. Warga di sana pesan titip dan jaga apinya,” kata Reza seraya menambahkan warga mengingatkan agar apinya harus dijaga dengan baik.

Kata Reza, pesan ini penting karena obor api PON XX berbentuk Tifa asli produksi orang Indonesia dan bukan dari luar negeri.” Desain obor api PON ini merupakan yang kedua. Pertama obor PON Jawa Barat 2016 dan kedua obor PON Papua 2021 model Tifa Papua,”katanya.

Antropolog dan curator museum Universitas Cenderawasih Enrico Kondologit membenarkan kalau desainnya berbentuk Tifa. “Ada salah persepsi alat music tifa tidak dipakai di seluruh Papua. Sebenarnya Tifa juga dipakai mulai dari masyarakat di wilayah pantai hingga pegunungan terutama di daerah Pegunungan Bintang. Selian it, Tifa juga telah ditetapkan sejak 2013 sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah Indonesia,”katanya di Museum Universitas Cenderawasih, Kamis (30/9/2021).

Menurut antropolog muda dari Universitas Cenderawasih itu, Tifa tidak hanya digunakan oleh masyarakat di dataran rendah dari wilayah Animha, Domberay dan Saireri saja tetapi masyarakat di wilayah pegunungan juga memiliki tifa. “Orang Epomek dan orang Yali di Pegunungan Bintang juga mengenal alat music pukul Tifa. Mereka ini mempunyai budaya yang sangat mendapat pengaruh dari wilayah suku Muyu (Boven Digoel) dan Suku Mappi,”kata curator museum Uncen ini.

Dia mengatakan, hampir semua wilayah adat di tanah Papua memiliki alat musik tabuh, hanya satu wilayah saja, yakni Mepago yang tidak punya alat musik Tifa.”Orang Meepago itu sangat identik dengan suara lantunan musik dengan suara mulut dan alat musik pighon,”katanya.

Suku-suku dan budaya di tanah Papua sudah mengenal alat musik Tifa. “ Hampir semua suku memiliki mitos tentang sejarah lahirnya tifa,”katanya.

Enrico Kondologit menegaskan bahwa Tifa itu benar-benar berakar dan lahir dari budaya orang Papua serta tidak terbius atau berbaur dengan budaya dari luar Papua.” Berbeda dengan ukulele atau suling tambur yang bersumber dari luar Papua,”katanya.

Hal inilah, kata Kondologit, sehingga mereka membuat pilihan model dan motif obor berbentuk Tifa yang pembawa api PON dari Klamono ke pembukaan PON XX di Stadion Lukas Enembe pada 2 Oktober 2021.

Motif dan Filosofi Obor

Bagian atas obor Tifa terdapat motif alam (gunung, gelombang dan ombak) menggambarkan wilayah adat dari wilayah dari Mamta/Tabi, Mee Pago dan Lapago. “Simbol harapan dan berusaha atau bekerja keras,”kata Enrico Kondologit.

Selanjutnya ada motif lipaan/lintah di wilayah adat Ha Anim (Asmat, Kamoro, Malind Anim). “Simbol kemenangan dan kemujuran dalam perang,”tulis Enrico dan kawan kawan dalam buku panduan Obor, Lentera dan Tungku.

Dalam budaya adat Saireri dan Domberai ada motif ular, pucuk pakis, genemo dan kelapa. “ Ini adalah Simbol keuletan dan pertumbuhan,”kata Enrico seraya menambahkan ada motif lingkaran atau Fouw dari Sentani di wilayah Mamta/Tabi yang berasal dari kura kura (Ebeuw) dan burung taon taon atau ulang Papua atau Rangkong Papua (Rhyticeros plicatus) adalah spesies rangkong yang terdapat di kawasan Melanesia. “ Ini merupakan simbol kesuburan, umur panjang dan sabar,”kata Enrico.

Sedangkan bagian bawah dari obor Tifa PON terdapat motif Lipan/lintah di noken, gelang tangan dari orang Moni di wilayah Meepago. “Itu merupakan simbol kemenangan dan kemujuran dalam perang dan perjalanan,”katanya.

Motif alam lainya adalah sungai di wilayah Selatan terutama suku Asmat, Kamoro, Malind Anim di wilayah Ha Anim. “Simbol kekayaan alam adalah bekerja, kerjasama, kekeluargaan dan harapan,”katanya.

Selain itu pada motif dan filosofi  lentera adalah motif tusuk hidung “Bipane” dari suku Asmat wilayah Ha Annim. “Ini merupakan simbol kedewasaan, kebesaran untuk menakuti lawan,”kata Enrico Kondologit. Begitupula motif alam (gunung, gelombang dan ombak) “Siymbol kekayaan alam dan harapan dalam budaya Saireri,”kata Kondologit. Wilayah adat Saireri juga memaknai kehidupan alam sungai dan laut sebagai simbol kehidupan dan adaptasi.

Pada Obor Tifa juga terdapat motif dan filosofi tungku dalam budaya Papua, misalnya motif alam gunung dan gelombang dan ombak di wilayah Mamta/Tabi, Lapago dan Mee Pago. “Memberikan siombol harapan dalam berusaha atau bekerja keras,”katanya.

Sedangkan motif tusuk hidung dari kulit kulit kerang di wiliayah Ha Anim menyimbolkan kebesaran, kedewasaan dan tanggung jawab.

Ada pula motif pucuk kelapa dalam obor tifa PON dari wilayah adat Tabi/Mamta merupakan symbol kedewasaan seseorang dan tanggung jawab. Selanjutnya motif alam (ombak, gelombang dan Gunung) di wilayah adat Mamta, Saireri, dan Ha Anim. “Merupakan simbol penghargaan terhadap alam dan kesejahteraan,”kata Enrcio. Terakhir dalam motif Obor Tifa PON terdapat motif Totem (mata leluhur) dari Yali Lapago sebagai simbol pengawasan leluhur.(*) 

newsportal

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

14 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

15 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

16 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

17 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

18 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

19 hours ago