Categories: METROPOLIS

Meninggalnya Mako Tabuni Melahirkan Generasi Baru Untuk Terus Melawan

Komite Nasional Papua Barat (KNPB) saat gelar aksi memperingati tujuh tahun hari meninggalnya Mako Tabuni  di putaran taksi Perumnas III Waena, Jumat (14/6). ( FOTO : Noel/Cepos)

JAYAPURA – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menegaskan meninggalnya Mako Tabuni karena di duga tertembak oleh aparat keamanan telah melahirkan ratusan Mako Tabuni lainya untuk melawan segala bentuk Politik Indonesia.

Hal ini dikatakan Ketua Komisariat Diplomasi Pusat KNPB Ogram Kobabe Wanimbo dalam aksi memperingati tujuh tahun hari meninggalnya Mako Tabuni diputaran taksi Perumnas III, Waena, Jumat (14/6).

Ogram Wanimbo mengatakan bahwa dengan meninggalnya Mako Tabuni tidak akan menjatuhkan perjuangan nasionalisme generasi muda untuk melawan perjuangan di Papua.

“Jatuhnya Mako Tabuni membangkitkan emosi dan amarah kami untuk lebih baik lagi mengatur strategi untuk melawan penindasan,” katanya.

Dia juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Papua bahwa jangan masyarakat Papua terlena dengan hegemoni dari kolonialisme negara ini. 

Ia juga mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi sesuai amanat undang-undang bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa namun dalam prakteknya hal itu tidak terjadi.

“Kita sudah mengerti bahwa negara ini dia sendiri membuat hukum dan sudah menyalahi hukum yang dibuatnya maka kami KNPB  kebal dengan aturan hukum Indonesia, maka kami siap melawan hukumnya dan sistemnya,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Aksi Hosea Yeimo mengatakan yang terlibat dalam aksi ini adalah anggota KNPB wilayah Numbay Sentani, Mahasiswa dan masyarakat Papua yang merasa memiliki terhadap perjuangan.

“Tujuan aksi ini kami ingin mengingatkan kepada rakyat Papua, melawan lupa di mana banyak peristiwa-peristiwa heroik yang telah dilakukan oleh patriot0patriot Papua, dengan mengorbankan segala-galanya bahkan nyawa hanya untuk memperjuangkan hak dan nilai-nilai luhur orang Papua,” katanya.

“Jika hari ini kita tidak sadar dan kita tidak lawan dan jika  kita terlena dengan gula-gula manis sistem kolonialisme yaitu realita penindasan maka kita akan musnah  dan nantinya hanya tinggal cerita bahwa di tanah ini pernah ada hidup orang kulit hitam rambut keriting,” katanya.

Pada tanggal 14 Juni 2012, Mako tertembak dalam sebuah operasi oleh Kepolisian Papua di Putaran Kaksi Perumnas III Waena dimana menurut laporan resmi Foker LSM Pembunuhan Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Musa Mako Tabuni diduga untuk meredakan ancaman konflik penduduk asli dan pendatang di Papua.(oel/gin)

newsportal

Recent Posts

Pangkogabwilhan Diminta Evaluasi Sistem Operasi di Papua

Mandenas menilai peristiwa tersebut berpotensi terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Jika korban mencakup perempuan…

11 hours ago

Target Sentuh Atap Langit, Temui Masjid Megah di Tepi Danau

Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak…

12 hours ago

Hitung-hitungan Dana Otsus Harus Sampai Akhir Tahun

Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Papua, Muflih Musaad mengatakan penyusunan usulan dilakukan mengacu pada kriteria penggunaan…

18 hours ago

Pengelolaan Sagu Harus Bisa Berkelanjutan

Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus…

19 hours ago

Papua Lepas 840 Calon Jemaah Haji

Menariknya, Aryoko juga meminta para jamaah untuk mendoakan Provinsi Papua, agar pembangunan di Papua bisa…

20 hours ago

Terapi Baru untuk Kanker Stadium Lanjut Kini Tersedia di Dalam Negeri

“Pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal.…

1 day ago