Categories: METROPOLIS

Lokasi Sejarah PD II Terancam Hilang Karena Abrasi

Marcel Mauri berdiri di bibir pantai tepat di depan pondasi tank eks peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Lantamal X Jayapura yang mulai terkena abrasi, Minggu (10/1). Jika lokasi ini tak dilindungi maka tidak menutup kemungkinan tiga tank bersejarah ini akan tergeser. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Tiga unit tank bekas peninggalan Perang Dunia II tak hanya tak dirawat tetapi lokasinya yang tepat berada di bibir pantai Hamadi, belakang Kompleks Lantamal X  Jayapura kini terancam hilang akibat abrasi. Meski ombak masih mengikis bagian ujung dari pondasi kedudukannya tank – tank ini namun jika tak ditahan maka besar kemungkinan posisinya akan bergeser. Apalagi ombak yang datang intentitasnya cukup tinggi dan deras. 

 “Ada bagian depan yang perlahan sudah mengikis pondasi dan itu kelihatan sekali, bagian bawahnya sudah tergerus,” ujar Stanley, salah satu warga di lokasi tersebut pekan kemarin. Ia menunjukkan jika ditarik garis bibir pantai sejatinya juga terkena dampak abrasi karena bibir pantai mengalami kemunduran akibat ombak. Ia sedikit menyayangkan karena sejatinya lokasi ini menyimpan sejarah, sama seperti Base G yang menjadi tempat pendaratan tentara sekutu kala itu. Nah dengan peninggalan 3 unit tank seharusnya lokasi ini bisa lebih ditata dan dijaga sehingga ada histori   yang mengedukasi. 

 “Selain itu jika dikelola paling tidak bisa jadi satu lokasi trip yang digabung baik religi maupun sejarah. Jadi dikemas dalam sebuah perjalanan mengunjungi tempat – tempat bersejarah,” beber Stanley. Seorang pemuda bernama Marcel Mauri  yang sempat memantau pinggiran pantai menyampaikan bahwa ada pondasi selain yang “diduduki” tiga unit tank sejarah tersebut ada pondasi lain yang juga mulai terkikis. “Saya tidak tahu apakah karena air laut memang senang naik atau seperti apa namun yang jelas ombaknya mengikis bibir pantai,” katanya.

 Sebelumnya, salah satu akademisi Uncen, Yehuda Hamokwarong juga mengatakan bahwa ada kemunduran bibir pantai setiap tahunnya. Ini dikatakan tak lepas dari arus air laut yang sedikit bergeser akibat bantalan kaki Jembatan Yotefa yang secara tidak langsung menggeser arus masuk dan keluar. “Dulu sebelum ada bantalan kaki jembatan kan air masuk los – los saja tanpa ada hambatan tapi sekarang  dia harus berputar di tengah dulu dan putaran ini berdampak pada bagian bibir pantai, bisa dilihat kondisi Pancai Ciberi sekarang yang ikut terkikis karena sangat dekat dengan jembatan,” imbuhnya. (ade/wen)

newsportal

Recent Posts

BTM Soroti Fair Play, Desak Evaluasi Wasit dan VAR di Liga 2

Belakangan ini, publik dihadapkan pada sejumlah pertandingan yang memicu tanda tanya, termasuk laga antara Persiba…

2 days ago

Sayangkan Aksi Demo yang Berdampak Libur Sekolah

ewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Jayapura, menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi yang terjadi di sejumlah…

2 days ago

Wamenkes: 90 Persen Kasus Malaria Nasional Berasal dari Papua

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Benjamin Paulus Octavianus, menegaskan Papua masih menghadapi beban penyakit menular…

2 days ago

Pemkot Pastikan Penyaluran Bantuan Pangan Tepat Sasaran

Pemerintah Kota Jayapura menegaskan komitmennya dalam memastikan penyaluran Bantuan Pangan Nasional berjalan tepat sasaran dan…

2 days ago

Tanah Diselesaikan Sesuai Prosedur, Bupati Mohon Sekolah Jangan Dipalang

Bupati Jayapura, Yunus Wonda, meminta masyarakat pemilik hak ulayat tidak lagi melakukan aksi pemalangan, terutama…

2 days ago

Provinsi Papua Pegunungan Dapat Porsi Dana Otsus Paling Kecil

"Kemarin itu saat pertemuan memang dirasa ada ketidakadilan sebab kita mendapatkan kuota fiskal untuk otsus…

2 days ago