Categories: FEATURES

Mirip Skateboard ala Kampung, Punya Marshal Untuk Buka Tutup Jalur

Begitu dilepas dari garis start di jalan menurun, gledekan meluncur bebas mengikuti kontur aspal. Suara gesekan roda pun langsung berpadu dengan sorak penonton. Menciptakan sensasi yang memacu adrenalin. Satu gledekan bisa dinaiki satu orang. Ada pula yang berboncengan, bahkan lebih dari dua orang. Kreativitas peserta terlihat dari desain kendaraannya. Ada yang tampil sederhana, ada pula yang dimodifikasi dengan bentuk unik dan warna mencolok.

Rute Gledekan Tretes membentang sekitar 500 meter, bahkan lebih. Titik start berada di bawah tikungan Sekuti. Sementara garis finis di persimpangan Tanjakan Jerapah. Trek lurus menurun dengan sedikit kelokan menjadi lintasan utama. Begitu peserta meluncur hingga finis, mereka tidak kembali dengan kendaraan. Gledekan didorong atau dipanggul sambil berjalan kaki menanjak menuju titik awal. Setelah itu, giliran berikutnya dimulai. Siklus sederhana ini berlangsung berulang selama dua jam.

Untuk menjaga keamanan lalu lintas, panitia menempatkan marshal di beberapa titik. Mereka memberi aba-aba, mengatur arus kendaraan umum agar tetap bisa melintas dengan sistem buka-tutup. Mereka juga membantu peserta bila ada yang jatuh. Feris menjelaskan, kendaraan umum memang tetap bisa melintas selama Gledekan Tretes dilakukan. Khususnya dari arah Prigen atau Tretes dan sekitarnya menuju ke Pandaan. Sedangkan dari arah Pandaan ke Tretes atau Prigen dan sekitarnya, biasanya diarahkan melewati Tanjakan Jerapah.

“Saat peserta sudah berada di start, kendaraan umum berhenti sementara. Menunggu peserta gledekan jalan hingga finis. Setelah itu, baru kendaraan umum bisa lewat. Begitu seterusnya, pakai sistem buka tutup,” katanya. Khusus untuk peserta, mereka wajib menggunakan alat keamanan. Mulai helm, sepatu, serta pelindung siku dan lutut. Siapa pun yang abai pada keselamatan, akan diminta menepi.

“Peserta gledekan memang harus memperhatikan keamanan. Wajib menggunakan sepatu, helm, pelindung siku tangan dan kaki. Kalu tidak mematuhi, kami minta berhenti,” tegasnya.Sebelum viral, gledekan sebenarnya sudah lama dikenal warga Palembon. Dahulu, permainan ini hanya muncul saat Ramadan, dimainkan beberapa pemuda setempat menggunakan gledekan kayu beroda laker.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Bekerja Bukan Lagi Soal Ideal, Tapi Kebutuhan yang Tak Bisa Ditunda

Di Papua, peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day setiap 1 Mei tidak hanya menjadi…

2 days ago

Janji Besar Prabowo di May Day 2026

Pernyataan tersebut menjadi pembuka dari sederet kebijakan dan program yang diklaim akan meningkatkan kesejahteraan pekerja…

2 days ago

DPRK Jayawijaya Sidak Dinsos dan RSUD Wamena

Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Jayawijaya melalui Komis C melakukan Sidak ke Dinas Sosial untuk…

2 days ago

Proposalnya Ditolak ITS, Eh Malah Raih S3 di Berlin

Setahun berikutnya, ia menuntaskan S2 di jurusan Informatika dari kampus yang sama pada 2013. Sejak…

2 days ago

Efisiensikan Biaya Operasional Penerbangan, Trigana Batasi Penerimaan Barang Cargo ke Wamena

Aviasi Penerbangan Trigana Air Service saat ini sedang melakukan efisiensi biaya operasional penerbangan yang cukup…

2 days ago

Pemprov Papua Selatan Bentuk Forum Energi Daerah

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Selatan menggandeng Global Green Growth Institute (GGGI) dan para pemangku kepentingan…

2 days ago