Categories: FEATURES

Jadi Keluarga Termiskin di Desa, Nilai Akademik Paling Rendah Namun Tak Mau Menyerah

Kisah Inspiratif Pengusaha Asal Buleleng, dari Miskin Hingga Omzet Toko Ratusan Juta per Bulan

Cerita kelam diwaktu kecil ditambah dengan latar belakang keluarga yang sangat miskin tak lantas membuat hidup berakhir. Kadek Krisna Dewa membuktikan bahwa dengan kemauan semua bisa berubah. Dulu nilai akademik terendah namun berhasil jadi ketua kelas dan kini hidupnya berubah total.

Laporan: Rosihan Anwar_Bali

Di sudut salah satu desa di Kabupaten Buleleng, seorang anak kecil terbangun. Bukan oleh hangatnya sinar matahari, melainkan oleh teriakan dan pertengkaran kedua orang tuanya.  Demikian kira-kira gambaran keseharian masa kecil yang dilalui oleh Kadek Krisna Dewa Anggana. Seorang pengusaha muda yang kini memiliki sejumlah brand aksesoris perhiasan di berbagai platform e-commerce dan toko offline di kota Denpasar. Krisna, begitu sapaan akrabnya, adalah bukti bahwa kemiskinan bukanlah takdir.

Dari seorang anak yang tumbuh dalam keluarga dengan ayah gangguan jiwa dan ibu yang berjuang sebagai buruh cuci serta penjual sayur, ia kini tumbuh sebagai pengusaha yang juga berhasil menamatkan pendidikan S1 dan tengah menempuh studi S2 di Universitas Negeri Krisna lahir dan besar di desa Gesing, sebuah desa terpencil di Kabupaten Buleleng yang berjarak 1,5 jam perjalanan dari Kota Singaraja.

Di desa ini, ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya, seorang yang mengalami gangguan kejiwaan, kerap melakukan kekerasan terhadap ibu dan kakaknya. “Hampir setiap hari saya merasa hidup tidak tenang. Dalam satu minggu, pasti ada pertengkaran hebat antara ayah dan ibu,” kenang Krisna. Ia masih ingat betul momen paling kelam, ketika ibunya dicekik dan diangkat hingga kedua kakinya tak lagi menyentuh lantai. Pernah juga ibunya disundut rokok di leher, dipukul, dan ditelanjangi paksa. Semua itu dilakukan di depan mata anak-anaknya.

Sementara itu, sang ibu bekerja keras dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Seperti berjualan sayur, tukang cuci, hingga pembantu rumah tangga. Namun, semua itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Keluarga saya adalah yang termiskin di desa. Kami tidak punya motor. Sementara hampir semua tetangga saat itu sudah punya. Makan daging atau ayam pun jarang sekali kami rasakan,” ujarnya.

Di sekolah, nasibnya tak lebih baik. Nilai akademiknya berada di urutan paling bawah. Bagaimana tidak, pikirannya tak pernah tenang.  Di sekolah, ia dihantui kekhawatiran akan pertengkaran yang mungkin terjadi saat pulang. Sementara sesampainya di rumah, ia sering mendapati ibunya sudah menangis atau terbaring lemas setelah dipukul sang ayah. “Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan tenang, ketika setiap detik dipenuhi kekhawatiran akan kekerasan yang mungkin terjadi lagi?,” tanyanya retoris.

Memasuki kelas 6 SD, Krisna bertemu seorang guru yang tegas sekaligus mampu mendorongnya untuk belajar lebih serius.  Setiap sebelum pelajaran dimulai, guru tersebut kerap menanyakan materi yang akan dipelajari di hari itu.  Lagi Krisna, kebiasaan itu justru menjadi pemicu untuk rajin belajar pada malam sebelumnya. Ia mulai rajin membaca, mengulang materi, dan berusaha memahami apa yang akan ditanyakan keesokan hari.

Page: 1 2 3 4

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Kursi Sekda Papua Memanas

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, pengumuman dan penerimaan berkas berlangsung pada 16-30 September 2026. Selanjutnya, seleksi…

13 hours ago

Mayat Seorang Wanita Ditemukan di Sekitar Kolam Buaya

Wanita tersebut diperkirakan sudah lanjut usia dan mengenakan jaket berwarna merah marone dan celana panjang…

14 hours ago

Orang Tua Siswa Minta Kampus Tegas

​"Sebenarnya aksi ini sudah berakhir beberapa hari lalu. Hanya karena kelalaian lembaga yang tidak mengakomodir…

15 hours ago

Ratusan Orang di Mimika Terinfeksi HIV-AIDS

Mayoritas penderita berjenis kelamin laki-laki sebanyak 109 orang, sedangkan perempuan tercatat 90 orang. Kepala Seksi…

16 hours ago

Pembangunan Kopdes Merah Putih Belum Menyentuh Kampung

Program pemerintah pusat dalam mendoro ekonomi masyarakat di kampung lewat Koperasi Desa Merah Putih (KDMP)…

17 hours ago

Gaji Manajer Kopdes Rp6,3 Juta-Rp8,3 Juta Dikontrak Dua Tahun

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan penghasilan manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berkisar…

18 hours ago