Categories: FEATURES

Data Ulang Harga Pangan Riil di Pasar, Sebagai Dasar Revisi Juknis Biaya MBG

Untuk menyesuaikan kondisi lapangan, BGN Papua menerapkan sistem pembelanjaan adcost, yakni mekanisme fleksibel yang memungkinkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan pembelian di atas harga standar, asalkan disertai bukti transaksi yang sah.

“Kami sudah instruksikan bahwa meskipun harga melebihi Rp8.000, SPPG tetap bisa belanja. Yang penting semua dicatat dan dilaporkan dalam laporan keuangan,” tegas Rama.

Penerapan sistem adcost membawa konsekuensi terhadap tata kelola anggaran. Jika sebelumnya rencana anggaran belanja (RAB) disusun untuk dua minggu, kini laporan dibuat setiap minggu untuk menyesuaikan pengeluaran harian.

“Konsekuensinya, dana yang seharusnya cukup dua minggu bisa habis dalam seminggu. Tapi itu tidak masalah, selama laporan keuangan transparan dan akurat,” tambahnya.

BGN Papua kini tengah melakukan pendataan ulang harga pangan riil di lapangan bersama DPRK Kota Jayapura dan Dinas Perindagkop. Hasil survei ini nantinya akan menjadi dasar bagi revisi petunjuk teknis (juknis) biaya MBG untuk Jayapura.

“Kami sudah dapatkan data harga aktual di pasar. Data itu akan kami sampaikan ke BGN Pusat sebagai bahan revisi juknis agar lebih realistis,” ujar Rama.

Isu lain yang turut mencuat adalah dugaan bahwa bahan pangan untuk program MBG di Papua sebagian besar masih didatangkan dari luar daerah. Namun Rama membantah hal itu. “Tidak semua bahan pangan datang dari luar Papua. Kami prioritaskan produk lokal, terutama ikan, sayur, dan bahan segar. Hanya jika stok di Papua kosong, baru kami ambil dari luar,” jelasnya.

Hingga kini, tercatat 54 dapur MBG telah aktif beroperasi di seluruh wilayah Papua. Sementara satu-satunya daerah yang belum tersentuh program ini adalah Kabupaten Mamberamo Raya. “Kami terus berkoordinasi agar ada mitra yang bersedia membuka dapur di sana. Target kami, tidak ada kabupaten yang tertinggal,” kata Rama optimistis.

Setiap dapur MBG wajib memiliki tiga unsur pegawai tetap: ahli gizi, akuntan, dan kepala SPPG. Ketiganya merupakan elemen penting agar dapur bisa beroperasi secara sah.
“Kalau salah satu dari tiga unsur ini tidak ada, dapur tidak boleh jalan. Mereka bertugas memastikan menu sesuai standar gizi dan laporan keuangan dibuat dengan benar,” ungkap Rama.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Share
Published by
Juna Cepos

Recent Posts

Tokoh Agama Papua Padukan Langkah Demi Kemanusiaan dan Perdamaian

   Keberagaman ini menurutnya harus dipelihara sebagai modal dasar untuk membangun tatanan sosial yang adil…

8 hours ago

13 Tahun Melayani Sebagai Sopir Justru Berakhir Tragis

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, mengatakan kasus tersebut bermula ketika korban…

8 hours ago

Revitalisasi Penyidikan  29 Proyek Revitalisdasi  Unmus Terus Berjalan

Kejaksaan Negeri (Kejari) Merauke masih terus mendalami dugaan tindak pidana korupsi dalam program revitalisasi Universitas…

9 hours ago

Seharian Duduk di Depan Laptop? Ini Risiko Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu

“Sebentar lagi selesai.” Kalimat ini mungkin sering muncul saat sedang mengerjakan tugas atau mengejar deadline.…

9 hours ago

Elay Giban Resmi Jabat Sekda Definitif Papua Pegunungan

Usai melalui beberapa tahapan test yang dilakukan dari oleh pansel dan BKN, akhirnya Gubernur Papua…

10 hours ago

Bahasa Inggris Ciri Utama Pembelajaran Termasuk Bercerita dan Interaksi dengan Lingkungan

Selama ratusan bahkan ribuan tahun, bumi dan laut telah menghidupi miliaran manusia.  Lebih dari 17…

10 hours ago