Categories: FEATURES

Dari Rasa Gabut  dan Tanpa Kursus Khusus Bisa Hasilkan Karya Tepat Guna

   Gagasan itu semakin menemukan bentuk ketika mereka melihat sistem absensi di sekolah masih menggunakan cara manual. Lembar kertas, tulisan tangan dan pencatatan kehadiran menjadi bagian dari rutinitas. Bagi ketiganya, kondisi tersebut membuka ruang untuk menghadirkan cara baru yang lebih praktis.

    Mereka kemudian mulai belajar. Tidak ada kursus khusus. Tidak pula ada ruang laboratorium dengan instruktur khusus yang mengajari setiap langkah. Internet menjadi salah satu guru mereka.

  Awalnya, aplikasi itu hanya dibuat sebagai proyek iseng-iseng. Mereka belum berpikir untuk langsung menerapkannya di sekolah. Namun, setelah melihat sistem tersebut mulai berjalan dan memiliki potensi untuk dikembangkan, ketiganya memberanikan diri menyampaikan gagasan itu kepada pihak sekolah.

  “Kami membuat aplikasi belajar di internet. Awalnya kita tidak usulkan ke sekolah, sebatas proyek iseng-iseng. Karena kami lihat potensinya bisa bekerja dengan lancar, akhirnya kami usulkan ke sekolah dan sekolah menerima dengan baik, memberikan kami support dan para guru jurusan memberikan kami arahan,” ujar Dhafin.

  Jeskhiel menerangkan, sistem tersebut dirancang menggunakan kartu identitas yang memiliki chip. Setiap siswa nantinya memiliki kartu pribadi yang dapat digunakan sebagai identitas ketika melakukan presensi.

  “Kami buat sendiri desainnya sama kartu pelajarnya, datanya mereka kita yang masukkan sendiri,” jelas Jeskhiel.

  Sistem tersebut berbasis website. Wali kelas memiliki akun masing-masing untuk masuk ke aplikasi dan memantau kehadiran siswa. Jika seorang siswa tidak hadir karena sakit, misalnya, status kehadiran dapat diperbarui melalui sistem. Data kehadiran kemudian dapat direkap secara berkala sehingga guru memiliki catatan yang lebih terorganisasi.

  Tidak hanya guru, aplikasi juga dirancang terhubung dengan WhatsApp orang tua sehingga informasi mengenai kehadiran siswa dapat menjadi bagian dari komunikasi antara sekolah dan keluarga.

  Jeskhiel menerangkan, membangun aplikasi tentu tidak semudah menekan beberapa tombol di komputer. Ada kebingungan di awal, ada proses mencoba, memperbaiki kesalahan, kemudian mencoba lagi.

  Jeskhiel mengakui, pada tahap awal mereka sempat bingung menentukan arah pengembangan sistem. Namun, arahan dari wali kelas dan guru jurusan membantu mereka memahami apa yang harus dilakukan.

  “Tingkat kesusahan kalau dalam pembuatan aplikasi awalnya kita bingung ini arahnya ke mana. Namun setelah kita dikasih arahan sama wali kelas, kita jadi langsung paham,” katanya.

Page: 1 2 3

Juna Cepos

Recent Posts

Obat Peserta JKN Masuk Tanggungan BPJS

   Kepala Bagian Mutu Layanan Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan Cabang Jayapura Dian Novita, mengatakan ketentuan…

13 hours ago

Pemprov Alokasikan Rp1Miliar untuk Kartu KASIH

  Gubernur Papua Matius D Fakhiri di Jayapura, Rabu, mengatakan Kartu KASIH disiapkan untuk memastikan…

14 hours ago

​Respon Keluhan Pedagang, Fasilitas Vital Pasar Otonom Segera Dibenahi

  Pertama, masalah penerangan atau lampu di dalam los-los pasar yang mati. Kedua, yang paling…

15 hours ago

​Semua Pedagang Pasar Otonom Dipastikan Dapat Lapak

  "Kita ke sini sesuai dengan perintah Pak Wali Kota untuk menata dan menertibkan Pasar…

16 hours ago

​Penataan Pasar Harus Diikuti Pengawasan yang Konsisten

   Suara nyaring datang dari kalangan pedagang asli Papua yang telah bertahun-tahun menggantungkan hidup di…

17 hours ago

Polsek Bandara Timika Sita 20 Anak Panah dari Penumpang Pesawat

Temuan senjata tajam ini terungkap saat petugas menggelar pemeriksaan rutin terhadap barang bawaan penumpang yang…

18 hours ago