

Kepala Bapas Kelas II Jayapura, Frianty Sanng (foto:Jimi/Cepos)
JAYAPURA–Broken home atau kerusakan hubungan dalam satu keluarga, banyak menjadi pemicu anak-anak terjerumus dalam pergaulan bebas. Keluarga yang harus menjadi tempat untuk berkumpul dan berbagi bersama, justru tidak bisa diharapkan bagi anak-anak untuk bergantung. Akhirnya, banyak yang mencari tempat pelarian di luar, dan tak sedikit yang akhirnya terjerumus pada hal-hal yang negatif.
Kepala Bapas Kelas II Jayapura, Frianty Sanng membenarkan bahwa broken home, keluarga yang tak lagi utuh, menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan remaja terjerumus dalam pergaulan bebas anak.
“Kejadian ini biasanya karena ada permasalah rumah tangga, entah itu berawal dari cekcok kedua orang tua, perselingkuhan, bahkan perkelahian yang berakibat putusnya tali yang dirangkai keluarga atau perceraian,” jelas Frianty kepada Cenderawasih Pos, Kamis (24/1).
Tak hanya itu, kata Frianty, faktor penyebab lain dari pergaulan bebas dari dari para remaja adalah rendahnya tingkat pendidikan keluarga, keadaan keluarga yang tidak stabil, kurangnya perhatian orang tua, hingga tingkat ekonomi keluarga yang rendah.
Mandenas menilai peristiwa tersebut berpotensi terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Jika korban mencakup perempuan…
Berada di tapal batas Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat dengan Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Puncak…
Pelaksana Tugas Kepala Bapperida Papua, Muflih Musaad mengatakan penyusunan usulan dilakukan mengacu pada kriteria penggunaan…
Menurut Lunanka, penguatan budidaya menjadi langkah penting untuk memastikan ketersediaan sagu dalam jangka panjang, sekaligus…
Menariknya, Aryoko juga meminta para jamaah untuk mendoakan Provinsi Papua, agar pembangunan di Papua bisa…
“Pendekatan CRS dan HIPEC merupakan terapi yang bersifat definitif pada kasus kanker dengan keterlibatan peritoneal.…