Categories: BERITA UTAMA

BTM Dimulai, Prokes Ketat Harga Mati

BTM Dimulai, Prokes Ketat Harga Mati

JAYAPURA- Setelah lebih dari setahun,  peserta didik sudah diperbolehkan untuk belajar tatap muka (BTM) di sekolah, Senin (18/10) kemarin. Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., mengaku bahwa belajar tatap muka dilakukan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

“Salah satunya semua guru yang mengajar sudah harus tervaksinasi. Bangunan sekolah, ruang kelas, dan lainnya harus disemprot disinfektan,” ungkap Tomi Mano, Senin (18/10) kemarin. 

Wali Kota Tomi Mano menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan Kota Jayapura yang mewenangani sekolah jenjang SD dan SMP sudah membuat standard operational procedure (SOP) protokol kesehatan dalam belajar tatap muka yang dilakukan.

“Saya sudah buat SOP, di antaranya anak-anak masuk sekolah harus diukur suhu tubuhnya, jaga jarak, dibekali handsanitizer, tempat duduk di dalam ruang kelas yang diatur berjarak, serta jam pelajaran tidak boleh lama. Di luar sekolah juga tidak boleh ada pedagang, dan terutama untuk peserta didik SD, setelah jam sekolah langsung pulang dijemput orang tua,” ujarnya.

“Jikalau dalam perjalanannya BTM ini dilakukan, kemudian ada temuan kasus, maka kita evaluasi. Kita juga antisipasi jangan sampai dengan kita buka kembali sekolah untuk melaksanakan BTM ini ada penemuan kasus penularan baru,” sambungnya.

Secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Jayapura, Dr. Fachruddin Pasolo, M.Si sendiri menyampaikan bahwa  pembelajaran tatap muka sudah mulai sejak 5 Oktober, untuk jenjang SD dan SMP.

“Ini  sesuai dengan Instruksi Wali Kota Jayapura, maka untuk jenjang pendidikan SD dan SMP itu sudah dibolehkan mulai Belajar Tatap Muka (BTM) tanggal 5 Oktober. Bentuk penerapan BTM di sekolah tetap 50 persen dan dibagi menjadi dua sesi, yakni di dalam ruangan hanya 16 orang, lalu harus ada yang mengawasi pengunaan masker dan mengingatkan untuk tidak berkerumun,” jelas Fachrudin Pasolo.

“Memang masuk dalam catatan kita, membangun suatu sistem skenario untuk belajar tatap muka di era Covid 19, sehingga mereka belajar juga yang biasanya 8 jam dipangkas hanya 1 jam, kemudian anak tidak diberi waktu istirahat, sehingga begitu selesai, keluar langsung pulang,” tambahnya.

Pasolo berharap, dalam SOP anak-anak wajib di antar oleh orang tua atau orang keluarga terdekat minimal orang yang satu rumah dengan anak tersebut.  “Jadi saya harap, kita punya SOP,  anak-anak diantar oleh orang tua mereka, keluarga terdekat atau minimal satu rumah itu dari rumah ke sekolah. Dan dari sekolah langsung pulang  tidak lagi bermain bermain-main,” jelasnya 

Ia juga menyampaikan, hingga kini para guru yang sudah di vaksin itu 98 persen, dan sisanya guru yang belum di vaksin dikarenakan memiliki penyakit penyerta, sehingga harus melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum dilakukan vaksin. (gr/nat)

newsportal

Recent Posts

Temuan Pemborosan Anggaran Jadi Perhatian DPRP di APBD Perubahan

   Ketua DPR Papua, Denny Henrry Bonai, mengatakan pembahasan tindak lanjut akan dilakukan oleh masing-masing…

6 hours ago

DPR Kota Jayapura Tetapkan 12 Raperda Dibahas Tahun Ini

  Regulasi ini mencakup empat (4) Raperda kategori APBD dan Delapan (8) Raperda Non-APBD guna…

7 hours ago

Mantan Bendahara Bunda PAUD Papsel Divonis 4 Tahun Penjara

Putusan Majelis Hakim Tipikor Jayapura tersebut  lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum sebelumnya yang…

8 hours ago

Pergaulan Bebas dan Faktor Ekonomi Jadi Penyebab 1000 Lebih Anak Berhenti Sekolah

  Sejumlah mama Papua datang dari berbagai Distrik di Kota Jayapura mengenakan sandal jepit, menggandeng…

9 hours ago

Stok Obat Menipis, Pelayanan Puskesmas Mopah Baru Terancam Terganggu

Kepala Puskesmas (Kapus) Mopah Baru Severina SH. Wiratwanti menyampaikan, stok obat, terutama jenis obat yang…

10 hours ago

Kemarau Panjang di Papua Pegunungan, Sejumlah Sumur Bor Milik Warga Mulai Mengering

Forecaster BMKG Wamena Ahmad Armanda menyatakan musim kemarau di wilayah Papua Pegunungan ini dimulai dari…

11 hours ago