Senin Depan Sudah Mulai Belajar Notmal, Orang Tua Minta Tak Ada Lagi Pemalangan
SENTANI- Setelah sempat dipalang selama kurang lebih empat bulan, SD Inpres Kampung Harapan di Kabupaten Jayapura akhirnya kembali dibuka. Pembukaan palang dilakukan oleh pemilik hak ulayat bersama Polsek Sentani Timur pada Rabu (5/8), sehingga aktivitas di lingkungan sekolah mulai kembali berjalan.
Pantauan Cenderawasih Pos, Kamis (6/8), sejumlah guru, orang tua murid, dan siswa bergotong royong membersihkan halaman, ruang kelas, serta lingkungan sekolah sebagai persiapan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.
Marince, salah seorang orang tua murid, mengaku lega dan bahagia karena anak-anak akhirnya bisa kembali belajar di sekolah setelah menunggu selama empat bulan. “Saya sangat senang anak saya bisa kembali sekolah. Kasihan selama empat bulan mereka tidak bisa belajar secara maksimal,” ujarnya.
Ia berharap persoalan pemalangan tidak kembali terjadi. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan pemilik hak ulayat perlu terus membangun komunikasi untuk mencari solusi terbaik agar hak anak memperoleh pendidikan tidak lagi terganggu.
“Jangan sampai anak-anak menjadi korban. Mereka berhak mendapatkan pendidikan dalam kondisi apa pun,” katanya.
Hal senada disampaikan Auzura dan Eka, dua siswa yang ikut membersihkan lingkungan sekolah. Keduanya mengaku senang karena dapat kembali belajar di gedung sekolah yang nyaman dan bertemu lagi dengan teman-teman mereka.
Senin Depan Sudah Mulai Belajar Notmal, Orang Tua Minta Tak Ada Lagi Pemalangan
SENTANI- Setelah sempat dipalang selama kurang lebih empat bulan, SD Inpres Kampung Harapan di Kabupaten Jayapura akhirnya kembali dibuka. Pembukaan palang dilakukan oleh pemilik hak ulayat bersama Polsek Sentani Timur pada Rabu (5/8), sehingga aktivitas di lingkungan sekolah mulai kembali berjalan.
Pantauan Cenderawasih Pos, Kamis (6/8), sejumlah guru, orang tua murid, dan siswa bergotong royong membersihkan halaman, ruang kelas, serta lingkungan sekolah sebagai persiapan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.
Marince, salah seorang orang tua murid, mengaku lega dan bahagia karena anak-anak akhirnya bisa kembali belajar di sekolah setelah menunggu selama empat bulan. “Saya sangat senang anak saya bisa kembali sekolah. Kasihan selama empat bulan mereka tidak bisa belajar secara maksimal,” ujarnya.
Ia berharap persoalan pemalangan tidak kembali terjadi. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Jayapura dan pemilik hak ulayat perlu terus membangun komunikasi untuk mencari solusi terbaik agar hak anak memperoleh pendidikan tidak lagi terganggu.
“Jangan sampai anak-anak menjadi korban. Mereka berhak mendapatkan pendidikan dalam kondisi apa pun,” katanya.
Hal senada disampaikan Auzura dan Eka, dua siswa yang ikut membersihkan lingkungan sekolah. Keduanya mengaku senang karena dapat kembali belajar di gedung sekolah yang nyaman dan bertemu lagi dengan teman-teman mereka.