Pasar Noken Mulai Terancam

Ketika Noken diubah bentuknya secara signifikan menjadi tas modern bermotif noken demi kepentingan komersial maka dampaknya esensi atau makna budayanya hilang. “Jelas bahwa modifikasi tanpa pemahaman akan nilai akan membuat budaya yang bersangkutan lebih cepat punah.

“Modifikasi budaya dipandang hanya sebagai alat bisnis, bukan identitas atau warisan. Wajar kalau komunitas pemilik budaya merasa identitasnya dieksploitasi,” ujar Titus.

Lebih lanjut dikatakan., kasus ini memberi pelajaran untuk beberapa hal. Pertama, diperlukan pendidikan dan literasi budaya. “Masyarakat dan pelaku industri harus paham nilai-nilai budaya agar tidak sembarangan mengubahnya,” kata Titus.

Kedua, perlindungan hukum, dimana pemerintah dapat membuat regulasi hak kekayaan intelektual komunal untuk melindungi warisan budaya. Ketiga, Kemitraan komunitas industri dengan komunitas noken untuk terus mendorong komunitas untuk berkreasi dan membantu pemasaran. Para pejabat di Papua sebisa mungkin membiasakan menggunakan tas noken dalam kerja kerjanya.

Baca Juga :  10 Kapolres di Jajaran Polda Papua Diganti

“Industri sebaiknya bekerja sama langsung dengan komunitas, tapi bukan untuk meminta izin mengubah bentuk,” tegasnya. Keempat, Pemberdayaan Pengerajin, yakni memberikan akses pelatihan, modal, dan pasar kepada pengerajin lokal agar mampu bersaing dan berkembang.

“Misalnya sertifikasi produk budaya, seperti hal label produk asli perlu juga dipikirkan,” kata dia. Dia menyarankan Industri yang melakukan modifikasi atau mengubah bentuk Noken untuk tidak melanjutkan bisnis itu dan masyarakat pun tidak perlu membeli dan menggunakan.

“Kebanggaan memakai Tas Noken, justru pada Noken yang dikerjakan dalam komunitas budaya masyarakat Papua. Bukan yang lain,” tutupnya. (ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Baca Juga :  Bantu Evakuasi Korban dan Minta Pungli Ditindak

Ketika Noken diubah bentuknya secara signifikan menjadi tas modern bermotif noken demi kepentingan komersial maka dampaknya esensi atau makna budayanya hilang. “Jelas bahwa modifikasi tanpa pemahaman akan nilai akan membuat budaya yang bersangkutan lebih cepat punah.

“Modifikasi budaya dipandang hanya sebagai alat bisnis, bukan identitas atau warisan. Wajar kalau komunitas pemilik budaya merasa identitasnya dieksploitasi,” ujar Titus.

Lebih lanjut dikatakan., kasus ini memberi pelajaran untuk beberapa hal. Pertama, diperlukan pendidikan dan literasi budaya. “Masyarakat dan pelaku industri harus paham nilai-nilai budaya agar tidak sembarangan mengubahnya,” kata Titus.

Kedua, perlindungan hukum, dimana pemerintah dapat membuat regulasi hak kekayaan intelektual komunal untuk melindungi warisan budaya. Ketiga, Kemitraan komunitas industri dengan komunitas noken untuk terus mendorong komunitas untuk berkreasi dan membantu pemasaran. Para pejabat di Papua sebisa mungkin membiasakan menggunakan tas noken dalam kerja kerjanya.

Baca Juga :  Ego Sektoral Penyelenggara Bisa Jadi Sandungan PSU Papua

“Industri sebaiknya bekerja sama langsung dengan komunitas, tapi bukan untuk meminta izin mengubah bentuk,” tegasnya. Keempat, Pemberdayaan Pengerajin, yakni memberikan akses pelatihan, modal, dan pasar kepada pengerajin lokal agar mampu bersaing dan berkembang.

“Misalnya sertifikasi produk budaya, seperti hal label produk asli perlu juga dipikirkan,” kata dia. Dia menyarankan Industri yang melakukan modifikasi atau mengubah bentuk Noken untuk tidak melanjutkan bisnis itu dan masyarakat pun tidak perlu membeli dan menggunakan.

“Kebanggaan memakai Tas Noken, justru pada Noken yang dikerjakan dalam komunitas budaya masyarakat Papua. Bukan yang lain,” tutupnya. (ade)

Layanan Langganan Koran Cenderawasih Pos, https://bit.ly/LayananMarketingCepos

BACA SELENGKAPNYA DI KORAN DIGITAL CEPOS  https://www.myedisi.com/cenderawasihpos

Baca Juga :  Komisi I Minta Utamakan Negosiasi

Berita Terbaru

Artikel Lainnya